Pencarian

75 Persen Daging Kaltim Masih Datang dari Luar, Regenerasi Peternak Muda Terhambat Stigma Ngarit

Selasa, 12 Mei 2026 • 17:03:01 WIB
75 Persen Daging Kaltim Masih Datang dari Luar, Regenerasi Peternak Muda Terhambat Stigma Ngarit
Eko Purwanto, remaja Kutai Kartanegara, menunjukkan semangat ngarit sebagai bagian dari tradisi peternakan.

KUTAI KARTANEGARA — Setiap sore, Eko Purwanto, remaja 16 tahun asal Kutai Kartanegara, meninggalkan gawainya dan keluar rumah membawa arit serta karung besar. Ia pergi ke ladang untuk mencari rumput bagi kambing peliharaannya. Saat ditanya apakah ia malu, jawabannya singkat: “Untuk apa saya harus malu?”

Kalimat itu mencerminkan mental yang mulai langka di kalangan generasi sekarang. Namun di balik kisah Eko, ada persoalan struktural yang jauh lebih besar: Kalimantan Timur kekurangan peternak muda, sementara kebutuhan daging terus melonjak.

Kebutuhan 60 Ribu Ekor Sapi per Tahun, Produksi Lokal Tak Cukup

Kebutuhan sapi potong di Kaltim mencapai 40 ribu hingga 60 ribu ekor per tahun. Ditambah daging beku yang nilainya setara puluhan ribu ekor sapi. Untuk kambing, permintaan mencapai 50 ribu ekor per tahun. Namun populasi sapi lokal baru sekitar 60 ribu–70 ribu ekor, dan sebagian besar belum siap potong.

Akibatnya, 75 persen kebutuhan daging bergantung pada pasokan dari luar daerah. Harga daging di Kaltim pun lebih mahal karena biaya distribusi dan logistik yang tinggi. Semakin jauh pengiriman, semakin tinggi harga jual ke masyarakat.

Stigma Ngarit: Pekerjaan Rendahan yang Sebenarnya Penuh Filosofi

Tradisi ngarit sudah lama dikenal di masyarakat Jawa dan beberapa daerah lain. Aktivitas ini bukan sekadar memberi makan ternak, tapi melatih kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab. Dalam filosofi yang berkembang, orang yang ngarit harus merunduk—simbol kerendahan hati. Arit harus tajam, melambangkan pentingnya mengasah kemampuan. Jumlah rumput yang dibawa harus pas, tidak berlebihan dan tidak kurang, sebagai simbol hidup seimbang.

Namun anak muda sekarang lebih sering melihat pekerjaan ini sebagai sesuatu yang tidak menjanjikan. Padahal sektor peternakan punya peluang ekonomi besar, terutama di daerah berkembang seperti Kaltim. Lahan luas tersedia, permintaan terus naik, dan pasar terbuka lebar.

IKN dan Ancaman Ketergantungan Pangan yang Semakin Nyata

Pembangunan Ibu Kota Nusantara membuat Kaltim diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Jumlah penduduk diperkirakan terus meningkat. Rumah makan, hotel, dan penduduk baru berdatangan. Konsumsi daging otomatis ikut naik.

Jika produksi lokal tidak diperkuat dari sekarang, ketergantungan terhadap daerah lain akan semakin besar. Regenerasi peternak muda menjadi kunci. Pendekatan modern—seperti media sosial, pemasaran digital, dan sistem peternakan efisien—bisa menjadi jalan masuk bagi generasi baru.

Eko mungkin hanya satu remaja di Kutai Kartanegara. Tapi ia membuka pintu diskusi yang selama ini jarang disentuh: siapa yang akan memenuhi pangan Kaltim jika anak mudanya ogah ngarit?

Bagikan
Sumber: katakaltim.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks