Kadin Sebut Pariwisata Indonesia Hadapi Masalah Konversi, Bukan Aset

Penulis: Aditya Nugraha  •  Sabtu, 12 September 2026 | 16:48:31 WIB
Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri James Riady berbicara dalam pembukaan Kadin Monthly Diplomatic Economic Breakfast di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

KALIMANTAN TIMUR — Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri James Riady menyatakan Indonesia tidak kekurangan aset pariwisata. Persoalan utamanya ada di tahap konversi. Pernyataan itu disampaikan dalam pembukaan Kadin Monthly Diplomatic Economic Breakfast di Ruang Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Forum tersebut dihadiri Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, para duta besar, kepala daerah, jajaran Kadin, perwakilan kamar dagang asing, investor, pengusaha, dan praktisi industri pariwisata. Tercatat perwakilan dari 67 negara hadir, terdiri atas 39 duta besar dan 28 anggota korps diplomatik lainnya. Jumlah itu menjadi partisipasi diplomatik terbesar sejak Kadin menyelenggarakan forum sarapan ekonomi bulanan.

Dari Keindahan Alam ke Belanja Wisatawan

James menegaskan tantangan pariwisata Indonesia bukan pada ketersediaan modal dasar. Pantai, laut, lokasi selam dan selancar kelas dunia, ribuan pulau, gunung berapi, hutan, kekayaan budaya, kuliner, hingga keramahan masyarakat disebut sudah tersedia.

Yang belum selalu menopang adalah ekosistem pariwisatanya. Kadin menyoroti sejumlah titik yang perlu diperkuat: konektivitas penerbangan, kapasitas hotel, transportasi publik, pusat perbelanjaan, restoran, penyelenggaraan acara, kebersihan destinasi, kemudahan perjalanan, konektivitas digital, dan konsistensi promosi.

"Indonesia sesungguhnya tidak memiliki masalah dengan aset pariwisata. Kita menghadapi persoalan konversi," kata James.

Menurut dia, inti persoalan adalah mengubah keindahan alam menjadi destinasi yang mudah dijangkau. Aksesibilitas perlu berubah menjadi pengalaman wisata, pengalaman menjadi belanja wisatawan, lalu belanja menjadi investasi dan lapangan kerja.

Konten Viral dan Rute Baru sebagai Pengungkit

James menilai pembangunan pariwisata tidak selalu harus dimulai dari proyek berskala besar. Pembukaan satu rute penerbangan baru, pembangunan marina, penyempurnaan kebijakan visa, kampanye media sosial, pengembangan kawasan belanja, hingga perbaikan akses dari bandara bisa memberi dampak ekonomi besar.

Perubahan cara wisatawan memilih destinasi turut menjadi perhatian. Arus wisata tidak lagi hanya digerakkan kampanye konvensional, tetapi juga konten di TikTok dan Instagram. Ketika sebuah tempat, makanan, atau pengalaman menjadi viral, ribuan orang terdorong datang untuk merasakan hal serupa.

James merujuk pengalaman Singapura dan Qatar yang mengembangkan pariwisata lewat kombinasi konektivitas, infrastruktur, perhotelan, penyelenggaraan acara, pelayanan, dan pencitraan global. Indonesia dinilai perlu kemampuan serupa untuk mengemas potensi menjadi produk wisata yang kompetitif.

Dampak ke Lapangan Kerja dan Daerah

Pariwisata disebut memiliki daya ungkit luas terhadap perekonomian. Sektor ini menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan hotel, restoran, transportasi, ritel, kuliner, kerajinan, hiburan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah.

"Pariwisata bukan semata-mata mengenai wisatawan. Pariwisata adalah tentang lapangan kerja, pertumbuhan daerah, devisa, kewirausahaan, dan kepercayaan diri bangsa," ujar James.

Di tengah tekanan pertumbuhan ekonomi global, tingginya biaya modal, dan terbatasnya ruang fiskal pemerintah, pariwisata dinilai sebagai salah satu sektor yang dapat memberikan hasil ekonomi relatif cepat. Selain kecerdasan buatan, teknologi, dan perumahan, pariwisata dianggap layak mendapat tempat lebih besar dalam strategi pertumbuhan nasional.

"Kita harus lebih terencana dalam mengubah keunggulan alam dan budaya Indonesia menjadi kegiatan ekonomi. Karena itulah, Kadin meyakini pariwisata layak memperoleh tempat yang jauh lebih besar dalam strategi pertumbuhan Indonesia," katanya.

James berharap pertemuan yang mempertemukan pemerintah, korps diplomatik, kepala daerah, investor, pengusaha, dan praktisi tersebut menghasilkan gagasan yang bisa segera diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top