KALIMANTAN TIMUR — Tekanan datang dari dua sisi sekaligus. Di satu sisi, Bessent berusaha meredam yield jangka panjang agar biaya utang pemerintah AS tidak membengkak. Di sisi lain, harga minyak yang kembali menembus level USD100 per barel berpotensi menyuntikkan kejutan baru ke rantai inflasi Negeri Paman Sam.
Kombinasi itu membuat ruang gerak The Fed menyempit. Pasar sudah memperhitungkan penurunan suku bunga, tetapi data energi yang kembali panas bisa memaksa bank sentral AS menahan diri lebih lama.
Dalam riset yang terbit 11 September 2026, Ahmad Mikail Zaini memperkirakan inflasi konsumen AS berada di kisaran 3,5-3,6 persen secara tahunan pada beberapa rilis data mendatang. Angka itu di atas konsensus pasar sebesar 3,4 persen.
Selisih tipis ini penting bagi pelaku pasar. Jika inflasi benar-benar meleset ke atas, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed bisa terdorong mundur, dan itu biasanya langsung terasa di pasar negara berkembang.
Mikail menyebut kenaikan tersebut terutama berpotensi datang dari kembali masuknya kejutan harga energi ke dalam rantai inflasi. Artinya, faktor eksternal, bukan permintaan domestik AS, yang jadi pemicu utama.
Yield obligasi pemerintah AS yang tinggi menjadi magnet bagi modal global. Selama imbal hasil surat utang AS tetap menarik, dana asing cenderung bertahan di sana ketimbang masuk ke pasar emerging market seperti Indonesia.
Upaya Bessent menekan yield jangka panjang lewat strategi penerbitan surat utang belum sepenuhnya berhasil. Pasar masih menuntut premi lebih tinggi di tengah ketidakpastian inflasi dan defisit fiskal AS.
Bagi Indonesia, kondisi ini berarti tekanan jual di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham masih mungkin berlanjut, setidaknya sampai arah kebijakan The Fed jelas.
Rupiah punya kaitan langsung dengan pergerakan yield AS. Ketika yield naik, dolar menguat, dan rupiah cenderung tertekan. Bank Indonesia biasanya merespons dengan intervensi atau menjaga daya tarik imbal hasil SBN domestik.
Untuk IHSG, sentimen eksternal ini bisa menahan laju penguatan. Sektor yang paling sensitif terhadap pelemahan rupiah adalah emiten dengan utang dolar besar, seperti sebagian perusahaan infrastruktur dan energi. Sebaliknya, eksportir komoditas justru bisa diuntungkan bila harga minyak dan komoditas lain ikut naik.
Pasar akan fokus pada rilis data inflasi AS dan pernyataan The Fed dalam beberapa pekan ke depan. Jika inflasi sesuai atau lebih rendah dari konsensus, ekspektasi penurunan suku bunga bisa kembali menguat dan memberi ruang bagi rupiah serta IHSG untuk rebound.
Namun, jika harga minyak terus bertahan di atas USD100 per barel, tekanan inflasi bisa lebih persisten dari perkiraan. Skenario ini akan membuat The Fed lebih hati-hati dan memperpanjang periode suku bunga tinggi.
Investasi mengandung risiko.