KALIMANTAN TIMUR — Dokter Spesialis Anak dr. Leonirma Tengguna membagikan panduan Tas Siaga Bencana (TSB) lewat utas di akun Threads miliknya. Panduan ini disusun dari sudut pandang seorang dokter anak sekaligus ibu yang paham situasi evakuasi sesungguhnya.
Indonesia sedang menghadapi beberapa bencana dalam waktu berdekatan: gempa NTT, kebakaran hutan dan lahan di Sumatra serta Kalimantan, dan erupsi Gunung Anak Krakatau. Rentetan kejadian ini jadi pengingat bahwa antisipasi tidak bisa ditunda.
Saat situasi darurat, tidak ada waktu untuk mencari barang satu per satu. Semua harus sudah siap dalam satu tas yang bisa langsung diambil dan dibawa lari.
Untuk keluarga dengan bayi dan balita, kebutuhan lebih kompleks. Selain perlengkapan orang tua, ada popok, susu, pakaian ganti anak, dan obat-obatan yang harus tersedia.
dr. Leonirma menekankan bahwa tas darurat harus berbentuk ransel. Tujuannya agar kedua tangan orang tua tetap bebas untuk memegang atau menggendong anak.
Prinsip berikutnya adalah memilih barang yang benar-benar esensial. Jangan tergoda membawa terlalu banyak barang yang justru membebani pergerakan saat evakuasi.
"Sebagai dokter anak dan Ibu, menurutku tas siaga bencana itu penting, tapi harus realistis, ringkas dan gampang digendong. Soalnya pada saat bencana terjadi, kemungkinan besar kita akan evakuasi sambil gendong anak kita (terutama bayi dan balita)," tulis dr. Leonirma, dikutip Rabu (9/9/2026).
Dokumen penting seperti akta kelahiran, kartu keluarga, dan kartu identitas sebaiknya dimasukkan ke dalam plastik kedap air. Simpan salinan digitalnya di ponsel atau cloud storage sebagai cadangan.
Untuk bayi, prioritaskan kebutuhan dasar yang sulit digantikan saat pengungsian. Susu formula atau ASI perah dalam wadah steril, botol, dan air bersih jadi prioritas utama.
Popok sekali pakai minimal untuk 2-3 hari, tisu basah, dan kantong plastik untuk popok kotor. Pakaian ganti anak 2 set, selimut tipis, dan gendongan bayi yang nyaman dipakai berjam-jam.
Untuk balita, tambahkan makanan siap saji yang tidak perlu dimasak, camilan bergizi, dan air minum kemasan. Sertakan mainan kecil atau buku favorit untuk menenangkan anak saat situasi menegangkan.
Kotak P3K mini wajib ada di dalam tas. Isinya perban, plester, antiseptik, kapas, dan gunting kecil. Untuk anak, siapkan obat demam sesuai resep dokter, obat alergi jika ada, dan termometer digital.
Jika anak sedang menjalani pengobatan rutin, bawa stok obat untuk minimal 3 hari ke depan. Sertakan catatan riwayat kesehatan anak dan nomor kontak dokter.
Untuk ibu menyusui, siapkan breast pad cadangan dan pompa manual jika diperlukan. Jangan lupa pembalut untuk kebutuhan ibu sendiri.
Fotokopi KTP, KK, akta kelahiran anak, dan kartu BPJS atau asuransi kesehatan. Simpan dalam satu map plastik agar tidak basah.
Uang tunai secukupnya dalam pecahan kecil. Saat bencana, ATM dan mesin EDC sering tidak berfungsi, sementara warung atau apotek terdekat mungkin masih buka.
Power bank dan kabel charger juga penting. Komunikasi dengan keluarga lain saat evakuasi sangat bergantung pada baterai ponsel yang tetap terisi.
Cek isi tas setiap 3 bulan sekali. Perhatikan tanggal kedaluwarsa susu formula, obat-obatan, dan makanan siap saji.
Ganti pakaian anak yang sudah tidak muat. Sesuaikan ukuran popok dan jenis susu dengan pertumbuhan anak.
Letakkan tas di tempat yang mudah dijangkau, bukan di gudang atau lemari terkunci. Semua anggota keluarga dewasa harus tahu lokasinya.
Jika harus mengungsi, utamakan keselamatan anak di atas barang bawaan. Tas siaga bencana dirancang untuk dibawa cepat, bukan untuk membawa seluruh isi rumah.
Latih anak mengenali situasi darurat dengan cara sederhana, misalnya lewat permainan atau cerita. Anak yang tahu apa yang harus dilakukan cenderung lebih tenang saat evakuasi.
Simpan nomor darurat penting di ponsel dan tempel di kulkas atau pintu kamar. Nomor BNPB, ambulans, dan kontak keluarga terdekat harus mudah diakses semua orang di rumah.
Menyiapkan tas siaga bencana bukan tanda paranoid, tapi bentuk tanggung jawab orang tua. Dengan persiapan yang tepat, ibu bisa lebih tenang menghadapi situasi darurat sambil tetap fokus melindungi anak.