KALIMANTAN TIMUR — Setelah seperempat abad, dunia Kamen Rider Agito kembali hidup lewat Agito: Psychic War. Film ini bukan sekadar nostalgia; ia hadir sebagai titik awal dari proyek ambisius The Kamen Rider Chronicle yang mengolah ulang kisah-kisah lama dengan pendekatan baru. Toei Company memproduksi film ini dengan Tsuyoshi Nakano sebagai produser dan Toshihiko Sahashi yang menangani musik.
Alur Agito: Psychic War mengambil latar sekitar dua dekade setelah konflik di serial aslinya. Ketika manusia mulai memperoleh kekuatan super dan menggunakannya untuk kejahatan, Kepolisian Metropolitan memanggil kembali Unit G. Kasus yang memicu kekacauan adalah penemuan jenazah dengan separuh tubuh membeku dan separuh lainnya terbakar—sebuah kejadian yang melampaui kejahatan konvensional.
Ruriko Aoi, diperankan oleh Yuchami, muncul sebagai pengguna Kamen Rider G6. Sementara itu, Sumiko Ozawa (Touko Fujita) harus mencari bantuan dari sosok lama: Shoichi Tsugami yang kehilangan kekuatan Agito, dan Makoto Hikawa yang tengah menjalani hukuman penjara. Situasi diperumit oleh kemunculan sosok mirip Gills Agito dan pembahasan tentang evolusi manusia.
Daya tarik utama film ini jelas pada kembalinya para pemain asli. Jun Kaname dan Toshiki Kashu tidak hanya sekadar tampil; mereka membawa kembali dinamika yang membuat serial 2001 itu dicintai. Yuchami, sebagai pendatang baru di dunia akting, juga mendapat sorotan karena perannya sebagai Kamen Rider G6.
Kejutan lain datang dari Noboru Kaneko yang memerankan sipir penjara Hikawa. Bagi penggemar Super Sentai, namanya tentu familiar dan kehadirannya menambah warna di tengah deretan wajah lama seperti Rina Akiyama (Mana Kazaya) dan Akiyoshi Shibata (Takahiro Omuro).
Setelah tayang perdana di Jepang pada 29 April 2026, film ini masuk ke Indonesia melalui jaringan CGV Cinemas, XXI, dan Cinepolis. Jadwal tayang bisa berbeda di tiap lokasi, jadi penonton disarankan mengecek sesi melalui aplikasi resmi masing-masing jaringan bioskop.
Nuansa tokusatsu memang tetap kental, tetapi pendekatan ceritanya terasa lebih matang. Film ini menonjolkan aksi sci-fi untuk penonton dewasa tanpa meninggalkan humor khas keluarga Agito. Desain Kamen Rider G7 dengan dominasi biru menjadi nilai jual, dan sistem armornya yang bergerak menuju tubuh Hikawa kerap disamakan dengan gaya Iron Man.
Namun, tidak semua eksekusi berjalan mulus. Efek CGI pada motor G3 terasa kurang meyakinkan, dan sebagian desain monster baru dianggap terlalu familiar bagi penggemar setia. Adegan kekerasan juga lebih eksplisit, dengan beberapa korban yang ditampilkan secara grafis, sehingga film ini direkomendasikan untuk penonton berusia 13 tahun ke atas sebelum ada klasifikasi resmi dari lembaga sensor Indonesia.
Agito: Psychic War membuktikan bahwa waralaba yang berusia puluhan tahun masih punya cerita untuk dituturkan. Kehadirannya di bioskop Tanah Air menjadi momen bagi penggemar lama untuk bernostalgia, sekaligus ajakan bagi penonton baru untuk mengenal salah satu era penting Kamen Rider.