Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud mendorong Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Kaltim memperluas layanan dokter spesialis ke pelosok daerah, seiring target kemandirian pemenuhan tenaga medis dalam lima tahun ke depan. Ajakan itu disampaikan saat pelantikan pengurus IDI Kaltim masa bakti 2025-2028 di kawasan IKN, Penajam Paser Utara, Minggu.
PENAJAM PASER UTARA — Pemprov Kalimantan Timur mengandalkan program Gratispol Pendidikan untuk mencetak dokter spesialis dari daerah sendiri. Beasiswa ini mencakup jenjang S1 hingga S3, termasuk pendidikan kedokteran dan dokter spesialis.
Melalui program tersebut, Kaltim tidak lagi bergantung pada pasokan tenaga medis luar daerah. Gubernur Rudy Mas'ud berharap IDI Kaltim tidak sekadar menjadi organisasi profesi, tetapi ikut bertindak sebagai mentor bagi calon dokter maupun peserta pendidikan dokter spesialis.
"IKN harus menjadi momentum yang turut mengangkat kualitas kesehatan masyarakat Kalimantan Timur," kata Rudy saat menghadiri pelantikan pengurus IDI Wilayah Kaltim di kawasan IKN, Minggu.
Acara pelantikan mengusung tema "Bersinergi Membangun Kesehatan Kaltim dan IKN melalui Profesionalisme, Etika, dan Perlindungan Hukum Kedokteran".
Rudy mengakui tantangan kesehatan di Kaltim tidak mudah. Wilayah geografis yang luas membuat akses layanan kesehatan belum merata, ditambah keterbatasan jumlah dokter spesialis.
Ia mendorong IDI memperkuat jejaring rumah sakit dan fasilitas kesehatan, serta meningkatkan kapasitas tenaga medis agar layanan tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar.
Pemprov Kaltim juga mengandalkan program Gratispol Kesehatan untuk memperluas akses masyarakat melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda).
IDI diharapkan terlibat langsung dalam sosialisasi, edukasi kesehatan, skrining, deteksi dini, hingga peningkatan mutu pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Pengurus IDI Wilayah Kaltim masa bakti 2025-2028 resmi dipimpin oleh Mansyah. Posisi Ketua Dewan Pakar diisi Andi Sofyan Hasdam.