KALIMANTAN TIMUR — Runtuhnya gletser di kawasan Himalaya disebut sebagai pemicu utama banjir bandang yang menyapu perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8). Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat getaran akibat runtuhan tersebut setara gempa bermagnitudo 5,2 yang kemudian mengirim aliran puing-puing destruktif ke arah hilir.
Kejadian ini membawa risiko besar bagi hampir 2 juta penduduk yang bermukim di area hilir. Wouter Buytaert, profesor hidrologi di Imperial College London, mengatakan bahwa pemanasan global membuat gletser menyusut sehingga potensinya untuk pecah dan runtuh menjadi lebih besar.
"Pemanasan global membuat gletser menyusut, sehingga potensinya untuk pecah dan runtuh menjadi lebih besar," kata Buytaert melansir CNN.
Jakob Steiner, ilmuwan kebumian dari Universitas Graz di Austria, menjelaskan bahwa bagian bawah gletser benar-benar terlepas. Jatuhnya bongkahan es dalam jumlah besar dari ketinggian dapat memicu tekanan dahsyat seperti ledakan bom.
"Bagian bawah gletser benar-benar terlepas," kata Steiner melansir CBS pada Kamis (27/8).
Tingkat laju penyusutan es di kawasan Hindu Kush Himalaya, termasuk Nepal, disebut telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 2000. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa wilayah tersebut mengalami pemanasan yang sangat cepat dibandingkan rata-rata global.
Nepal termasuk wilayah yang sangat rentan terhadap Glacial Lake Outburst Floods (GLOF), yaitu banjir bandang akibat jebolnya danau gletser secara mendadak yang melepas volume air sangat besar. Bencana serupa pernah terjadi pada Juli 2025 yang bermula dari Gyring County di China, lalu menerjang Distrik Rasuwa di Nepal.
Otoritas setempat belum mengonfirmasi apakah kejadian terbaru ini dipicu oleh fenomena GLOF atau langsung oleh runtuhnya gletser.
Dalam beberapa pekan ke depan, para ilmuwan dari sejumlah negara akan melakukan studi lebih lanjut untuk mengukur tingkat probabilitas terjadinya peristiwa ini di tengah krisis pemanasan global dibandingkan era pra-industri. Dorothy Heinrich, peneliti dari Universitas Reading di Inggris, menyatakan para peneliti menyadari tren krisis iklim di Himalaya.
"Ada keyakinan yang tinggi bahwa akan terjadi lebih banyak gelombang panas, pencairan gletser, penyusutan lapisan tanah beku, dan hal-hal semacam itu yang dapat memicu kejadian seperti tanah longsor dan banjir akibat meluapnya gletser," kata Heinrich melansir France 24.
Heinrich menekankan bahwa hubungan pasti antara krisis iklim dan bencana ini hanya dapat dibuktikan melalui studi atribusi peristiwa yang sedang berjalan.