BONTANG — Efisiensi pabrik pupuk nasional meningkat signifikan. Hasil uji kinerja menunjukkan konsumsi energi turun dari 39,28 menjadi 35,25 MMBTU per ton amonia, sebuah lompatan yang memperkuat daya saing industri pupuk dalam negeri di tengah tekanan harga energi global.
Direktur Utama Pupuk Kaltim, Rafli Yandra, menegaskan seluruh parameter operasional telah terpenuhi secara optimal selama periode pengujian. "Keberhasilan ini memperkuat daya saing Pupuk Kaltim sekaligus menegaskan komitmen kami dalam mendukung ketahanan pangan nasional," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Bontang.
Revamping tidak hanya menekan biaya, tetapi juga mendongkrak output pabrik. Selama pengujian, Ammonia Pabrik-2 sanggup memproduksi rata-rata 1.841 ton amonia per hari, meningkat dari kapasitas sebelumnya yang hanya 1.767 ton per hari.
Tambahan produksi ini menjadi bahan baku utama bagi pabrik urea milik Pupuk Kaltim. Dengan pasokan amonia yang lebih melimpah, perusahaan optimistis menjaga stabilitas distribusi pupuk ke petani di Kalimantan Timur dan wilayah pemasaran lainnya.
Modernisasi mencakup pembaruan sejumlah komponen kunci proses produksi. Beberapa teknologi utama yang diperbarui meliputi shift converter, ammonia converter, dan CO2 removal system.
Pupuk Kaltim juga mengintegrasikan otomatisasi melalui Distributed Control System (DCS). Sistem ini memungkinkan pemantauan proses secara real-time, meningkatkan akurasi operasi, dan memitigasi potensi gangguan teknis sejak dini.
Proyek yang diresmikan Januari 2026 ini menjadi tonggak pertama dari tujuh komitmen revitalisasi industri pupuk nasional yang dijalankan Pupuk Indonesia Group. Dukungan regulasi berasal dari Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025.
Setelah peresmian, pabrik menjalani tahapan persiapan dan penyesuaian operasi secara bertahap hingga mencapai kinerja optimal pada Agustus 2026. Rafli menambahkan, keberhasilan ini sejalan dengan proyek strategis lain seperti pembangunan Pabrik Soda Ash di Bontang dan pengembangan kawasan industri pupuk baru.
"Kami tidak hanya memastikan Ammonia Pabrik-2 kembali beroperasi, tetapi juga menghadirkan kinerja fasilitas produksi yang lebih efisien dan andal," tutup Rafli.