BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan mencatat 11.869 titik panas tersebar di 10 kabupaten/kota Kalimantan Timur selama 1-21 Agustus 2026. Jumlah itu naik dibanding periode sama pada 2015 yang mencapai 9.793 titik, dan diprediksi terus meningkat karena puncak kemarau baru terjadi dua bulan mendatang.
BALIKPAPAN — Rata-rata 565 titik panas terdeteksi setiap hari di Kalimantan Timur sepanjang 21 hari terakhir. Data BMKG Stasiun Balikpapan menunjukkan sebaran terbanyak berada di Kabupaten Berau dengan 439 titik hanya dalam satu hari, Jumat (21/8/2026).
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, mengatakan fenomena El Nino tahun ini lebih kering dibanding musim kemarau serupa pada 2015 lalu. Karena itu, potensi bertambahnya titik panas masih terbuka lebar.
"Puncak El Nino lebih kering di Kaltim diperkirakan bukan bulan ini saja, tapi masa puncak panas diprakirakan terjadi pada September hingga Oktober, sehingga kemungkinan titik panas pun akan meningkat," ujar Huda di Balikpapan, Sabtu.
Ia menjelaskan, periode 1-21 Agustus 2015 lalu BMKG mendeteksi 9.793 titik panas. Angka tahun ini melonjak sekitar 21 persen, menandakan kondisi atmosfer yang jauh lebih kering dibanding delapan tahun sebelumnya.
Data riil BMKG pada Jumat (21/8/2026) mulai pukul 01.00-24.00 Wita mencatat 980 titik panas di Kaltim. Sebarannya tidak merata, dengan konsentrasi tertinggi di wilayah utara provinsi.
Huda menegaskan, edukasi ke masyarakat menjadi langkah paling mendesak, terutama bagi warga yang biasa membuka lahan pertanian atau perkebunan dengan cara dibakar. Ia mengingatkan praktik itu berisiko menjalar ke lahan lain saat angin kencang.
"Ajakan ini harus terus menerus dilakukan hingga beberapa bulan ke depan," katanya. Aktivitas kecil seperti membuang puntung rokok di area hutan juga disebutnya bisa memicu kebakaran karena daun kering mudah terbakar di musim kemarau.
BMKG mengajak pemerintah daerah dan unsur masyarakat memperkuat mitigasi dari hulu, yakni pencegahan, hingga penanganan di lapangan ketika karhutla sudah terjadi.