KALIMANTAN TIMUR — BYD tak berhenti meluncurkan produk baru. Setelah M6 EV rakitan lokal meluncur di GIIAS 2026 dengan harga Rp 395 juta, kini giliran Sealion 8 yang disiapkan sebagai senjata di segmen SUV keluarga. Mobil ini resmi mengaspal di Australia sejak 5 Januari 2026 dan langsung mencuri perhatian berkat spesifikasi agresif di kelas PHEV.
Di Australia, BYD Sealion 8 hadir dalam tiga varian. Paling bawah adalah Dynamic FWD dengan satu motor listrik (sistem DM-i) yang dibanderol AUD 56.990 sebelum biaya jalan. Lalu ada Dynamic AWD dengan dua motor (sistem DM-p) seharga AUD 63.990, dan puncaknya Premium AWD di angka AUD 70.990.
Dengan kurs AUD-IDR Rp 12.630 per 17 Agustus 2026, harga tersebut setara dengan:
Perlu digarisbawahi, angka itu belum termasuk pajak dan biaya jalan Indonesia yang jauh lebih rumit dari Australia. Jadi jangan langsung menganggapnya sebagai harga jual di Tanah Air.
Soal performa, Sealion 8 punya dua karakter yang berbeda. Varian FWD mengandalkan satu motor listrik yang dipadukan mesin 1,5 liter turbo, menghasilkan tenaga total 205 kW dan torsi 315 Nm. Akselerasi 0-100 km/jamnya 8,6 detik—cukup untuk kebutuhan harian, tapi tidak bikin jantung berdebar.
Berbeda cerita dengan varian AWD. Tenaganya melonjak ke 359 kW dengan torsi 675 Nm, setara lebih dari 480 tenaga kuda. Sprint 0-100 km/jam hanya butuh 4,9 detik. Ini angka yang biasanya dimiliki SUV sport, bukan mobil keluarga tujuh penumpang.
Baterainya pun berbeda. FWD memakai baterai Blade 19 kWh dengan jarak tempuh listrik murni 103 km (NEDC), sementara AWD dibekali baterai 35,6 kWh yang mampu menempuh 152 km. Konsumsi BBM klaim pabrik sangat fantastis: 1,0 hingga 1,1 liter per 100 km—artinya dalam mode hybrid, mobil ini nyaris tidak minum bensin untuk pemakaian harian. Tangki bensinnya sendiri berkapasitas 60 liter.
Sealion 8 bukan mobil kecil. Panjangnya mencapai 5.040 mm dengan jarak sumbu roda 2.950 mm, lebih panjang dari Toyota Fortuner dan bersaing dengan Hyundai Palisade. Ground clearance 190 mm cukup untuk jalan Indonesia yang kadang tidak bersahabat.
Sayangnya, kapasitas bagasi jadi kompromi. Dengan tujuh kursi terisi penuh, ruang bagasi cuma 270 liter—cukup untuk dua koper kabin. Kalau baris ketiga dilipat, kapasitasnya melar jadi 960 liter, dan maksimal 1.960 liter jika semua kursi dilipat rata.
Fitur kabinnya tidak main-main. Ada layar sentuh 15,6 inci yang bisa berputar, panel instrumen digital, dan head-up display 26 inci—yang diklaim terbesar di kelasnya. Varian AWD mendapat suspensi adaptif DiSus-C, sementara Premium menambah audio 21 speaker, jok pijat 10 titik di baris depan dan tengah, plus ventilasi jok.
Mode kabinnya juga unik: Nap Mode untuk tidur di dalam mobil, Camping Mode untuk berkemah, dan Car Wash Mode. Sembilan airbag termasuk tirai udara hingga baris ketiga jadi standar di semua varian.
Pertanyaan besarnya: kapan masuk Indonesia dan apakah akan dirakit lokal? BYD sudah punya pabrik di Subang yang memproduksi M6 EV. Secara logika, Sealion 8 sangat cocok untuk pasar Indonesia yang menggemari SUV 7-seater. Namun ada dua hambatan besar.
Pertama, harga. Jika dijual di Indonesia dengan pajak impor, banderolnya bisa tembus Rp 1 miliar—zona harga yang sudah ditempati Hyundai Palisade dan Mazda CX-9. Kedua, insentif PHEV di Indonesia belum sebesar BEV murni. Pajak untuk mobil hybrid memang lebih rendah dari mobil konvensional, tapi tidak seekstrem mobil listrik baterai.
Kalau BYD serius merakit Sealion 8 di Subang, harga bisa turun signifikan. Namun itu butuh waktu dan investasi tambahan. Untuk sekarang, kita hanya bisa menunggu keputusan resmi dari BYD Indonesia.
Sebelum tergoda angka 4,9 detik, ada beberapa catatan. Pertama, garansi baterai 8 tahun atau 160.000 km memang panjang, tapi garansi kendaraan hanya 6 tahun—masih wajar, tapi bukan yang terbaik di kelasnya.
Kedua, bobot kosong hingga 2.580 kg untuk varian AWD membuat mobil ini sangat berat. Ini berdampak pada keausan ban dan rem, terutama untuk pemakaian di perkotaan yang sering macet. Ketiga, ground clearance 190 mm dan panjang 5 meter bisa jadi tantangan di jalan sempit atau parkir gedung bertingkat.
Terakhir, klaim konsumsi BBM 1,0-1,1 liter per 100 km adalah angka NEDC yang optimistis. Di dunia nyata, dengan kondisi lalu lintas Indonesia dan AC menyala penuh, angka itu pasti naik. Tapi untuk PHEV, efisiensi tetap jauh lebih baik daripada mobil bensin konvensional.
Verdict awal: Sealion 8 adalah produk menjanjikan yang bisa mengubah peta persaingan SUV premium di Indonesia—jika harganya masuk akal. Kalau BYD bisa merakit lokal dan membanderol di bawah Rp 800 juta, kompetitor seperti Palisade dan CX-9 harus mulai khawatir. Tapi jika dijual di atas Rp 1 miliar, minatnya akan terbatas pada segmen yang sangat spesifik.