PENAJAM PASER UTARA — Perjalanan menuju Istana Wakil Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN) kini menjadi pengalaman fisik yang menguji ketahanan tubuh. Sebanyak 210 anak tangga beton kelabu berjejer membelah bukit hijau, menghubungkan halaman utama yang sejajar jalan raya menuju lantai dasar bangunan yang berada di ketinggian sekitar 80 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Tyas, jurnalis asal Jakarta, mengaku harus berhenti di anak tangga ke-50 untuk sekadar mengatur napas. "Kita jadi mempertanyakan kebugaran kita," ujarnya sambil menyeka keringat. Beberapa pengunjung lain memilih menyerah dan beralih ke eskalator yang sengaja disembunyikan di balik rimbunnya lanskap hijau.
Kelelahan yang dirasakan pengunjung ternyata memiliki maksud filosofis yang dirancang matang oleh sang arsitek. Konsep rumah dinas orang nomor dua di Indonesia ini merujuk pada rumah lamin atau lou, rumah panjang tradisional tempat tinggal bersama keluarga suku Dayak Kenyah, Bahau, dan Benuaq. Di Kalimantan Tengah, konsep serupa dikenal sebagai rumah betang oleh suku Ngaju.
Secara tradisional, lamin berdiri di atas tiang kayu ulin setinggi minimal empat meter. Tangga dari batang kayu utuh yang ditakik menjadi satu-satunya akses masuk. Pada masa lampau, saat ancaman konflik atau serangan satwa liar datang, tangga ini bisa segera ditarik ke atas untuk memutus akses penyerang.
Filosofi proteksi dan adaptasi inilah yang diterjemahkan modern ke dalam lanskap istana. Bangunan utama sengaja ditempatkan di puncak tertinggi bukit, dengan elevasi 40 meter memisahkannya dari jalan raya. Jalur menanjak diciptakan agar pengunjung merasakan langsung transformasi dari ruang bawah menuju ruang sakral di atas, layaknya bertamu ke rumah panjang Kalimantan masa silam.
Setibanya di anak tangga terakhir, pengunjung disambut anjungan luas yang menjadi titik pandang utama ke seluruh kawasan pemerintahan IKN. Dari ketinggian ini, hamparan visi masa depan Indonesia terpampang nyata—mulai dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang futuristik, jajaran Rumah Tapak Jabatan Menteri, hingga gedung bertingkat rumah susun aparatur sipil negara (ASN). Embusan angin Nusantara yang kencang menjadikan area ini tempat favorit untuk melepas penat dan berswafoto.
Staf Direktorat Sarana Prasarana Otorita IKN (OIKN) Cora Samuella menjelaskan, manajemen alur kunjungan telah ditata untuk kenyamanan masyarakat umum. "Kami menyiapkan rute yang jelas dan memastikan area terbatas tetap tertutup untuk menjaga keamanan istana," kata Cora. Petugas gabungan disiagakan di berbagai sudut strategis untuk memberikan panduan dan memastikan dokumentasi foto maupun video mematuhi regulasi.
Sebagai kawasan kepresidenan, OIKN menerapkan tata tertib yang wajib dipatuhi. Pengunjung diharuskan berpakaian rapi dan sopan dengan atasan berlengan, celana atau rok panjang di bawah lutut, serta wajib memakai sepatu. Atasan tanpa lengan, celana pendek, rok mini, celana jins robek, dan sandal dipastikan dilarang masuk.
Pengelola juga melarang keras pembawaan senjata tajam, makanan, minuman, rokok, rokok elektrik (vape), hewan peliharaan, serta penggunaan pesawat tanpa awak (drone) tanpa izin khusus.
Pengalaman mendaki Tangga Demokrasi pada akhirnya mengantarkan pengunjung pada inti konsep arsitektur istana yang disebut "Huma Betang Umai". Dalam bahasa lokal, istilah ini bermakna rumah panjang yang dipersonifikasikan sebagai sosok ibu yang mengayomi, menaungi, dan memelihara anak-anaknya.
Kemegahan konsep tersebut dibalut teknologi ramah lingkungan mutakhir. Atap besar istana terintegrasi dengan hamparan panel surya sebagai pemasok energi mandiri. Sistem hybrid cooling diterapkan untuk memaksimalkan sirkulasi udara silang alami, sehingga penggunaan pendingin ruangan (AC) dapat ditekan seminimal mungkin. Orientasi seluruh bangunan pun dibuat presisi mengikuti sumbu barat-timur untuk membatasi paparan langsung terik matahari.
Melalui perpaduan antara memori kolektif rumah panjang, teknologi sirkular hemat energi, dan topografi perbukitan Nusantara, setiap anak tangga yang didaki di Istana Wakil Presiden bukan lagi sekadar tantangan fisik, melainkan napak tilas filosofi leluhur yang dikemas dalam wajah arsitektur masa depan.