Yope Kumpulkan Dana Rp 203 Miliar untuk Bangun Jejaring Sosial Tanpa Algoritma dan Iklan

Penulis: Endra Sanjaya  •  Kamis, 23 Juli 2026 | 09:01:01 WIB
Yope mengumumkan perolehan pendanaan awal senilai 12,3 juta dolar AS untuk pengembangan jejaring sosial tanpa algoritma dan iklan.

KALIMANTAN TIMUR — Yope, aplikasi sosial yang menekankan interaksi dalam lingkaran pertemanan dan keluarga terdekat, resmi mengumumkan perolehan pendanaan awal senilai 12,3 juta dolar AS. Putaran ini dipimpin oleh Northzone dengan partisipasi dari Inovo, Redseed, dan Geek Ventures, membawa total pendanaan Yope menjadi 20 juta dolar AS. Pendanaan ini akan digunakan untuk mengembangkan fitur berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang memperkuat hubungan di dunia nyata, bukan untuk mengejar popularitas.

Konsep Jejaring Sosial Mikro yang Privat

Alih-alih bersaing dengan TikTok, Instagram, atau Snapchat dalam hal jangkauan publik, Yope justru membalikkan logika tersebut. Platform ini dibangun di atas "komunitas mikro" — grup privat tempat pengguna berbagi foto, video, dan pesan tanpa tekanan algoritma. Akun pengguna bersifat privat secara bawaan, dan tidak ada umpan berita yang diatur oleh sistem rekomendasi.

"Kami menemukan peluang besar untuk menciptakan ruang baru bagi anak muda agar bisa bersosialisasi. Kami menyebutnya Yope, platform sosial berbasis AI untuk generasi muda dan generasi berikutnya," ujar Bahram Ismailau, Co-founder sekaligus CEO Yope, dalam wawancara dengan TechCrunch.

Hasil Riset: 30 Persen Pengguna Lebih Suka 'Foto Dump' Privat

Ismailau mengungkapkan bahwa timnya melakukan lebih dari 100.000 wawancara — dibantu alat AI — untuk memahami perilaku anak muda di seluruh dunia. Hasilnya, sekitar 30 persen responden ternyata menggunakan akun "foto dump" atau "spam" untuk membagikan momen candid hanya kepada teman dekat. Banyak lainnya bahkan tidak mengunggah apa pun secara publik dan hanya mengandalkan aplikasi pesan instan untuk berkomunikasi.

"Anak muda tidak punya tempat untuk berekspresi jika mereka belum siap menjadi influencer," jelas Ismailau. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keinginan untuk berekspresi tetap ada, hanya saja dengan tingkat privasi yang lebih tinggi.

AI untuk Memperkuat Interaksi, Bukan Menggantikannya

Yope memanfaatkan AI dengan cara yang berbeda. Alih-alih digunakan untuk menghasilkan konten, AI di sini berfungsi sebagai jembatan interaksi. Dalam waktu dekat, Yope akan meluncurkan mini-game yang dibuat oleh AI dan dapat dimainkan bersama teman. Fitur lain yang tengah dikembangkan adalah kemampuan AI untuk membantu pengguna bertemu langsung di dunia nyata, seperti membeli tiket acara atau merekomendasikan tempat nonton pertandingan sepak bola bersama.

Setiap pengguna memiliki "dinding" profil yang menampilkan foto dalam tata letak kolase yang agak acak, mirip dengan kenangan Myspace. Ke depannya, pengguna bisa menambahkan minat, musik favorit, serta menyesuaikan warna dan wallpaper profil. Fitur rekap momen terbaik juga dihasilkan oleh AI, bukan oleh kurator manusia.

Pertumbuhan Pengguna dan Model Bisnis Langganan

Meski baru dikembangkan dalam bentuknya saat ini selama sekitar dua tahun, Yope telah mencatatkan hampir 15 juta pengguna terdaftar. Setiap pekan, pengguna secara kolektif membagikan 10 hingga 20 juta konten, baik berupa foto, video, maupun stiker. Ismailau mengklaim lebih dari 50 persen pengguna membuka aplikasi setidaknya lima hari dalam sepekan.

Menariknya, sekitar 20 persen pengguna aktif Yope adalah anggota keluarga yang lebih tua, yang diundang oleh pengguna muda. Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi ini tidak hanya diminati oleh remaja, tetapi juga menjembatani komunikasi antargenerasi.

Yope tidak akan mengandalkan iklan sebagai sumber pendapatan. Sebaliknya, perusahaan akan fokus pada model langganan premium (subscription) untuk pengguna dengan kebutuhan lebih tinggi. Pendekatan ini dinilai lebih sehat dibandingkan praktik predator Meta, TikTok, atau X yang mengandalkan data dan perhatian pengguna.

Target Audiens: Siapa yang Cocok Menggunakan Yope?

Yope dirancang untuk individu yang ingin berbagi momen pribadi tanpa tekanan untuk tampil sempurna atau mengejar jumlah pengikut. Aplikasi ini sangat cocok bagi kelompok pertemanan atau keluarga yang ingin memiliki ruang digital eksklusif, jauh dari hiruk-pikuk konten publik. Bagi pengguna di Indonesia yang mulai lelah dengan algoritma media sosial arus utama, Yope bisa menjadi alternatif yang menyegarkan — meskipun belum tersedia secara resmi di pasar lokal.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top