PLN Uji Coba Sistem Jaringan Cerdas di Bali, Potensi Panel Surya Atap Tembus 500 MW

Penulis: Dimas Prasetyo  •  Selasa, 21 Juli 2026 | 16:45:01 WIB
PLN menguji coba sistem jaringan cerdas (smart grid) di Bali untuk mengelola potensi panel surya atap yang mencapai 500 MW.

KALIMANTAN TIMUR — Direktur Distribusi PLN, Arsyadany Ghana Akmalaputri, menyebut Bali memiliki karakteristik sistem kelistrikan yang ideal untuk mengembangkan teknologi distribusi masa depan. "Selain didukung infrastruktur yang memadai, Bali juga memiliki potensi besar dalam pengembangan energi baru terbarukan, khususnya PLTS Atap," ujarnya saat kunjungan kerja ke PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali.

Potensi PLTS atap di Bali yang mencapai 500 MW menjadi daya tarik utama. Angka ini setara dengan hampir setengah dari total beban listrik rata-rata di provinsi tersebut. Dengan jumlah itu, Bali dinilai menjadi laboratorium hidup untuk menguji integrasi energi bersih ke jaringan listrik utama.

Cara Kerja DERMS dan Dampaknya ke Pelanggan

DERMS merupakan sistem digital yang dirancang untuk mengelola berbagai sumber energi terdistribusi. Mulai dari PLTS atap, baterai penyimpanan energi (battery energy storage), hingga kendaraan listrik yang terhubung ke jaringan distribusi. Manager PLN UP2D Bali, Petrus Irwan Ichwansaputra, menjelaskan semakin banyak sumber energi baru yang terhubung, semakin kompleks pengelolaannya.

"Melalui DERMS, PLN dapat memantau kondisi jaringan secara real time, menjaga keseimbangan pasokan dan beban, serta mengoptimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan tanpa mengurangi keandalan sistem," jelas Petrus.

Bagi pelanggan, implementasi DERMS berarti pasokan listrik yang lebih stabil. Sistem ini memungkinkan PLN mendeteksi potensi gangguan lebih dini dan mempercepat pengambilan keputusan operasional. Alhasil, kualitas pelayanan kepada masyarakat pun meningkat.

Langkah Menuju Virtual Power Plant

PLN tidak berhenti pada DERMS. Bali dipersiapkan menjadi fondasi pengembangan Virtual Power Plant (VPP) di masa mendatang. VPP adalah sistem yang menggabungkan berbagai sumber energi terdistribusi menjadi satu kesatuan pembangkit virtual yang bisa dikendalikan secara terpusat.

Dalam kunjungannya, Arsyadany meninjau Distribution Control Center (DCC) PLN UP2D Bali, implementasi PoC DERMS, serta infrastruktur komunikasi LTE 450 MHz. Teknologi komunikasi ini menjadi tulang punggung sistem distribusi digital PLN di Bali.

"Transformasi distribusi bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi membangun sistem kelistrikan yang lebih cerdas, tangguh, dan berkelanjutan. Pilot project di Bali harus mampu membuktikan bahwa digitalisasi distribusi dapat meningkatkan keandalan pasokan listrik, mempercepat respons terhadap gangguan, mengoptimalkan pemanfaatan energi baru terbarukan, serta menjadi model implementasi yang dapat direplikasi di seluruh Indonesia," kata Arsyadany.

Melalui pengembangan smart grid ini, PLN berharap Bali bisa menjadi model transformasi sistem distribusi nasional sekaligus mempercepat pemanfaatan energi bersih. Target akhirnya adalah mendukung transisi energi menuju Net Zero Emissions dengan memanfaatkan potensi PLTS atap yang melimpah di Pulau Dewata.

Reporter: Dimas Prasetyo
Sumber: nusabali.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top