SANGATTA — Langkah antisipatif terhadap fenomena El Nino yang diprediksi mencapai puncak pada akhir 2026 mulai dijalankan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Bupati Ardiansyah Sulaiman menegaskan bahwa mitigasi harus dilakukan sejak dini agar tekanan inflasi tidak membebani warga, terutama di sektor pangan dan air bersih.
Salah satu kekhawatiran utama pemerintah daerah adalah menurunnya debit sejumlah sungai saat kemarau berkepanjangan. Bupati meminta PDAM bersama instansi terkait segera menyusun skema pemanfaatan seluruh sumber air yang tersedia, termasuk embung dan sumber alternatif lainnya.
"Semua pihak tidak boleh hanya bergantung pada sumber air yang ada saat ini," ujar Bupati Ardiansyah Sulaiman di Sangatta, Rabu.
Di sektor pertanian, pemerintah menginstruksikan penyesuaian pola tanam agar produksi pangan tetap terjaga meskipun ketersediaan air terbatas. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan bersama Dinas Ketahanan Pangan telah menyusun strategi khusus untuk membantu petani menghadapi keterbatasan air.
Bupati juga mendorong camat, kepala desa, dan lurah untuk menggalakkan gerakan menanam tanaman pangan di lingkungan masing-masing. Lahan pekarangan rumah bisa dimanfaatkan untuk menanam cabai, tomat, kangkung, bayam, atau sayuran lain melalui media tanah, hidroponik, maupun akuaponik.
"Hal ini juga bisa menahan inflasi. Warga tidak harus selalu belanja ke pasar," kata Ardiansyah.
Bupati menekankan pentingnya kelancaran perdagangan kebutuhan pokok. Pemerintah daerah akan memperkuat kerja sama dengan daerah penghasil komoditas strategis untuk menjamin pasokan jika suatu saat terjadi gangguan distribusi akibat El Nino.
Instruksi ini disampaikan Ardiansyah dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Kantor Bupati Kutim, Sangatta, Senin (13/7/2026). Rapat tersebut menjadi forum koordinasi seluruh pemangku kepentingan untuk menyatukan langkah menghadapi potensi krisis pangan dan air bersih.
Musim kemarau di wilayah Kutai Timur diprediksi berlangsung mulai Juli hingga Desember 2026. Puncak fenomena El Nino diperkirakan terjadi pada akhir tahun, yang berpotensi memperparah kekeringan dan menekan produksi pangan lokal jika tidak diantisipasi sejak sekarang.