KALIMANTAN TIMUR — Berdasarkan data yang disampaikan dalam acara Anugerah Adinata Syariah 2026 di Jakarta, Senin (6/7), posisi Indonesia kini berada di bawah Malaysia yang kokoh di peringkat pertama. UEA naik ke peringkat kedua, menggeser Arab Saudi ke posisi ketiga. Padahal, pada tahun 2023 lalu, Indonesia sempat menempati peringkat ketiga dunia.
Ma'ruf Amin yang dikenal sebagai Bapak Ekonomi Syariah Indonesia menyoroti kesenjangan antara potensi dan realisasi. Dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia serta sumber daya alam yang melimpah, Indonesia dinilai layak menempati posisi puncak.
"Seharusnya kita bukan di nomor 4 tapi potensi yang kita miliki mestinya Indonesia ada di nomor 1," tegas Ma'ruf dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa Indonesia mestinya mampu menjadi pusat ekonomi syariah dunia sekaligus pusat produksi halal. Peringkat ke-4 ini disebutnya sebagai tantangan serius yang harus segera dijawab dengan aksi nyata, bukan sekadar wacana.
Gelaran Anugerah Adinata Syariah 2026 digelar CNN Indonesia bekerja sama dengan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Acara ini bertujuan memberikan penghargaan kepada pemerintah provinsi yang dinilai paling aktif mengembangkan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di daerahnya masing-masing.
Selain kategori pemprov, ajang ini juga memberikan Apresiasi Mitra Pendukung Ekosistem Ekonomi Syariah. Penghargaan ini ditujukan kepada para kolaborator strategis yang berkontribusi dalam percepatan pengembangan sektor tersebut, mulai dari perbankan syariah, pesantren, hingga pelaku usaha kecil dan menengah.
Untuk bisa mengejar ketertinggalan dari Malaysia dan UEA, Indonesia membutuhkan akselerasi di beberapa sektor kunci. Pertama, penguatan rantai pasok industri halal dari hulu ke hilir, termasuk sertifikasi halal yang cepat dan murah. Kedua, pengembangan instrumen keuangan syariah yang inovatif dan mudah diakses oleh masyarakat luas.
Ketiga, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku industri harus diperkuat. Tanpa kolaborasi yang solid, potensi besar Indonesia hanya akan menjadi angka di atas kertas, sementara negara lain terus bergerak maju menguasai pangsa pasar ekonomi syariah global yang nilainya mencapai triliunan dolar. Peringkat 4 bukanlah akhir, tapi harus menjadi pemicu untuk berbenah.