BALIKPAPAN — Angka rata-rata lama menginap tamu di hotel berbintang Balikpapan menembus 1,79 hari pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan ini dari bulan sebelumnya dan menilainya sebagai indikator pemulihan sektor perhotelan.
Kenaikan 1,79 hari bukan sekadar statistik. Bagi pengelola hotel, ini berarti okupansi kamar bertahan lebih lama. Bagi pelaku usaha di sekitar hotel, seperti restoran dan transportasi, dampaknya langsung terasa dari peningkatan transaksi.
“Ini sinyal positif untuk pariwisata dan perjalanan bisnis di Balikpapan,” tulis BPS dalam rilisnya. Data ini dikumpulkan dari seluruh hotel berbintang yang beroperasi di kota tersebut.
BPS tidak merinci faktor tunggal di balik kenaikan ini. Namun, pola musiman dan geliat event di Balikpapan kerap menjadi pemicu. Aktivitas pertambangan dan energi yang menjadi denyut nadi Kota Minyak juga turut mendorong kunjungan pebisnis yang membutuhkan akomodasi jangka pendek hingga menengah.
Perpaduan antara wisatawan rekreasi dan pelaku perjalanan dinas menciptakan permintaan yang stabil. Jika sebelumnya tamu hanya menginap satu atau dua malam, kini kecenderungannya mulai bergeser ke durasi yang lebih panjang.
Kenaikan lama menginap berdampak langsung pada pendapatan hotel. Semakin lama tamu tinggal, semakin besar potensi belanja untuk layanan tambahan seperti laundry, makanan, dan minuman. Hotel-hotel di kawasan bisnis Balikpapan, seperti di sekitar Jalan Jenderal Sudirman dan kawasan Pelabuhan Semayang, biasanya menjadi yang pertama merasakan efek ini.
Namun, tantangan tetap ada. Persaingan dengan hotel non-bintang dan akomodasi alternatif seperti apartemen sewa harian masih ketat. Belum lagi tekanan inflasi yang bisa mempengaruhi daya beli konsumen.
BPS akan terus memantau tren ini pada bulan-bulan mendatang. Jika kenaikan berlanjut, sektor pariwisata Balikpapan bisa optimis menyongsong akhir tahun. Sebaliknya, jika melandai, perlu dicermati apakah ada faktor eksternal yang mengganggu mobilitas tamu.
Untuk saat ini, data 1,79 hari menjadi modal bagi pemkot dan pelaku industri untuk menyusun strategi promosi dan peningkatan layanan. Angka ini juga bisa menjadi referensi bagi investor yang melirik potensi perhotelan di Ibu Kota Nusantara (IKN) dan sekitarnya.