KALIMANTAN TIMUR — Bencana banjir bandang yang melanda dua desa di Kecamatan Bolaang itu memaksa warga kehilangan sejumlah barang kebutuhan pokok. Tim AP3BMR yang dipimpin Ketua Parindo Potabuga langsung turun ke lokasi dengan membawa paket bantuan berisi kasur lipat, selimut, handuk, sabun cuci, sabun mandi, dan beras.
Parindo mengatakan, pendekatan langsung ke rumah-rumah warga dipilih agar bantuan tidak tersendat oleh prosedur birokrasi yang panjang. “Kami sengaja mengunjungi langsung masyarakat yang tertimpa musibah, biar kita juga bisa mengetahui langsung dampak dari banjir bandang yang menimpa mereka,” ujarnya saat ikut menyerahkan bantuan, Sabtu.
Menurutnya, dalam situasi darurat seperti pascabanjir, kebutuhan dasar harus segera dipenuhi tanpa harus menunggu antrean panjang di posko. “Syukur Alhamdulillah, meskipun kecil sumbangan yang kita bawa tapi mengenai langsung kepada masyarakat yang tertimpa musibah,” tambah Parindo sambil membantu menurunkan paket dari mobil.
Setiap paket yang dibagikan memang tidak bernilai besar secara nominal. Namun, bagi warga yang lantai rumahnya masih berlumpur, selimut dan kasur baru menjadi barang yang sangat dibutuhkan. Di salah satu rumah, seorang ibu tua tampak menggenggam erat selimut yang baru diterimanya. Di rumah lain, anak-anak berebut mencoba kasur lipat yang dibagikan tim.
Bantuan ini menjadi penopang awal bagi 50 KK yang rumahnya terendam banjir bandang. Alih-alih menunggu bantuan dari pemerintah daerah yang mungkin memakan waktu, kehadiran AP3BMR setidaknya meringankan beban warga pada hari-hari pertama pascabencana.
Para relawan AP3BMR tidak hanya menurunkan paket di pinggir jalan. Mereka mengetuk satu per satu pintu, duduk sejenak, dan mendengar cerita warga. “Kami sengaja mengunjungi langsung masyarakat yang tertimpa musibah, biar kita juga bisa mengetahui langsung dampak dari banjir bandang yang menimpa mereka,” kata Parindo mengulangi alasan di balik metode tersebut.
Bencana merusak banyak hal, termasuk rasa aman dan nyaman warga. Namun, langkah kecil seperti kunjungan door to door ini menjadi pengingat bahwa kepedulian paling terasa ketika yang memberi mau berjalan lebih jauh. Tidak sekadar menyerahkan barang, tetapi juga menghadirkan kehadiran di tengah kesulitan.