JAKARTA — Ketua Umum Asosiasi Industri Penghasil Petrokimia Indonesia (AIPP), Hari Supriyadi, menyambut positif temuan cadangan gas raksasa di Kalimantan Timur. Ia menilai temuan ini menjadi angin segar bagi keberlangsungan industri petrokimia yang selama ini bergantung pada pasokan gas alam sebagai bahan baku utama.
Temuan oleh perusahaan migas asal Italia, Eni S.p.A, di Blok Ganal dan Blok Gula mencakup 7 triliun kaki kubik gas bumi dan 375 juta barel kondensat. Jumlah tersebut dinilai signifikan untuk menopang kebutuhan industri hilir migas nasional dalam jangka panjang.
Hari Supriyadi menyebutkan bahwa penemuan ini terjadi di saat yang tepat. Ketidakpastian pasokan energi global akibat konflik geopolitik membuat harga gas dunia fluktuatif, sehingga ketersediaan cadangan dalam negeri menjadi krusial.
"Ini kabar baik bagi pasokan gas alam nasional serta dapat dimanfaatkan oleh industri petrokimia," ujar Hari dalam dialog Manufacture Check, CNBC Indonesia, Senin lalu.
Dengan tambahan cadangan ini, industri petrokimia berpotensi mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku. Selama ini, sektor petrokimia Indonesia masih harus mengimpor sejumlah bahan baku karena pasokan gas dalam negeri belum mencukupi.
Keberadaan Blok Ganal dan Blok Gula di lepas pantai Kalimantan Timur juga dinilai strategis. Lokasinya relatif dekat dengan kawasan industri yang sudah ada di Kalimantan, sehingga biaya distribusi dan infrastruktur pendukung bisa lebih efisien.
Meski optimistis, Hari mengingatkan bahwa temuan ini masih perlu ditindaklanjuti dengan percepatan proses eksplorasi dan produksi. Regulasi yang mendukung serta kepastian investasi menjadi kunci agar cadangan tersebut bisa segera dimanfaatkan.
Industri petrokimia Indonesia sebelumnya sempat mengalami tekanan akibat menipisnya cadangan gas di beberapa blok lama. Temuan baru di Kaltim ini diharapkan mampu mengubah tren tersebut dan mendorong pertumbuhan sektor manufaktur berbasis migas.
Pemerintah sendiri terus mendorong optimalisasi sumber daya alam untuk kepentingan domestik. Dengan adanya temuan ini, target peningkatan nilai tambah di sektor hilir migas dinilai semakin realistis untuk dicapai dalam beberapa tahun ke depan.