Rupiah Melemah ke Rekor Terburuk Rp17.500/US$ Seiring Eskalasi Tegang Ketegangan Iran-AS

Penulis: Aditya Nugraha  •  Selasa, 12 Mei 2026 | 10:09:31 WIB
Rupiah melemah ke level Rp17.500 per dolar AS, rekor terendah sepanjang sejarah pencatatan.

KALIMANTAN TIMUR — Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka dengan pelemahan sebesar 0,43% ke level Rp17.480/US$ pada awal perdagangan. Pencapaian Rp17.500/US$ menandai titik terendah sejak mata uang Indonesia mulai dicatat secara sistematis, melampaui rekor sebelumnya dan mencerminkan tekanan dolar global yang kuat di tengah ketidakpastian geopolitik.

Ketegangan Iran-AS Jadi Pemicu Utama

Penyebab langsung pelemahan rupiah adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan gencatan senjata dengan Iran kini berada di "ujung tanduk." Teheran menolak proposal Washington untuk mengakhiri perang dan sebaliknya mengajukan sejumlah tuntutan khusus.

Iran menuntut penghentian konflik di semua front, termasuk di Lebanon, kompensasi atas kerusakan perang, pencabutan blokade laut AS, jaminan tidak ada serangan lanjutan, dan pemulihan ekspor minyaknya. Teheran juga menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.

Trump menilai respons Iran "sama sekali tidak dapat diterima," sementara Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa militer Iran siap merespons setiap agresi. Gencatan senjata yang berlaku sejak 7 April terancam runtuh akibat kebuntuan negosiasi ini.

Efek Domino ke Pasar Energi dan Mata Uang Emerging

Ketegangan tersebut langsung berdampak ke harga minyak mentah Brent Crude, yang naik lebih dari 3% melampaui US$104 per barel. Arus kapal melalui Selat Hormuz menyusut drastis, memaksa produsen memangkas ekspor dan menekan pasokan global, kondisi yang secara historis menguntungkan negara-negara pengekspor minyak namun menambah beban impor bagi Indonesia.

AS sekaligus menjatuhkan sanksi baru terhadap pihak-pihak yang membantu Iran mengekspor minyak ke China. Kombinasi antara pengetatan suplai energi, eskalasi geopolitik, dan penguatan dolar menciptakan storm sempurna bagi mata uang Asia Tenggara—dengan rupiah berada di posisi paling rentan mengingat defisit transaksi berjalan Indonesia yang masih cukup besar.

Pertemuan Trump-Xi di Beijing Menjadi Titik Kritis

Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing pada Rabu, dengan isu Iran diperkirakan menjadi salah satu agenda utama. Hasil pertemuan ini dapat menentukan apakah negosiasi akan berlanjut atau eskalasi semakin dalam, yang pada gilirannya akan memengaruhi sentimen pasar dan pergerakan kurs dalam beberapa hari ke depan.

Domestik, survei menunjukkan dua dari tiga warga Amerika menilai Trump belum menjelaskan tujuan perang secara jelas, menambah ketidakpastian di pasar global. Investor Indonesia yang memiliki exposure dolar atau aset di emerging markets diimbau meningkatkan pengelolaan risiko di tengah volatilitas mata uang yang meningkat.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: cnbcindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top