BONTANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang resmi mengalokasikan anggaran sebesar Rp695.505.024 pada tahun anggaran 2026 untuk memfasilitasi transportasi laut bagi tenaga pendidik. Langkah ini diambil guna menjamin kelancaran proses belajar mengajar di wilayah pesisir dan kepulauan.
Dana tersebut difokuskan untuk menyewa empat unit kapal ketinting yang akan beroperasi sebagai armada antar-jemput rutin bagi guru yang bertugas di daerah terpencil.
Program ini menyasar empat titik krusial di wilayah kepulauan Bontang yang selama ini memiliki tantangan aksesibilitas. Berikut adalah rincian operasionalnya:
| Aspek Program | Detail Informasi |
|---|---|
| Total Anggaran | Rp695.505.024 (Tahun 2026) |
| Jumlah Armada | 4 Unit Kapal Ketinting |
| Wilayah Sasaran | Pulau Gusung, Tihi-Tihi, Malahing, dan Selangan |
| Penerima Manfaat | Tenaga Pendidik (Utama) dan Pelajar (Kondisional) |
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, menjelaskan bahwa sistem penyewaan dipilih karena jauh lebih efisien dibandingkan pengadaan unit baru. Dengan menyewa, pemerintah daerah tidak perlu lagi memikirkan biaya perawatan alat, pembelian bahan bakar, maupun upah operasional harian.
Selain efisiensi anggaran, skema ini memiliki dampak sosial ekonomi yang positif karena kapal disewa langsung dari warga sekitar.
“Kami menyewa kapal dari warga lokal, sehingga selain menunjang mobilitas guru, program ini juga membantu perekonomian masyarakat pesisir. Keamanan tetap menjadi prioritas utama kami, memastikan kapal yang digunakan layak laut dan aman bagi penumpang,” ujar Abdu Safa, Rabu (18/2/2026).
Disdikbud memastikan bahwa seluruh kapal ketinting yang dikontrak telah memenuhi standar kelayakan operasional, terutama saat menghadapi cuaca ekstrem di perairan Bontang. Program ini diharapkan dapat meningkatkan angka kehadiran guru secara konsisten, sehingga kualitas pendidikan di wilayah pulau setara dengan sekolah-sekolah di daratan.
Penyediaan transportasi ini menjadi salah satu program prioritas Pemkot Bontang untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi para "pahlawan tanpa tanda jasa" yang mengabdi di garis depan pesisir.