PT Berdikari mulai mengeksekusi proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) untuk memperkuat rantai pasok pangan nasional sekaligus menstabilkan harga di tingkat peternak pada Minggu (10/5/2026). Langkah strategis ini menjadi respons atas melimpahnya produksi telur nasional yang mencapai 18.000 ton per hari namun tidak dibarengi serapan pasar yang optimal. Program tersebut merupakan proyek prioritas Presiden Prabowo Subianto guna mencapai kemandirian pangan melalui kolaborasi lintas sektor.
PT Berdikari bergerak cepat merespons kondisi pasar unggas nasional yang tengah mengalami tekanan harga akibat surplus produksi. Melalui proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT), BUMN sektor peternakan ini berupaya menciptakan ekosistem pangan yang lebih stabil dari hulu hingga ke hilir. Proyek ini dirancang untuk memastikan hasil produksi peternak dapat terserap secara maksimal oleh industri pengolahan, sehingga fluktuasi harga di pasar tidak lagi merugikan produsen kecil.
Langkah awal proyek ini ditandai dengan penyelenggaraan forum diskusi kelompok terfokus (FGD) di Jakarta, Jumat (8/5/2026). Pertemuan tersebut melibatkan jajaran kementerian, badan riset, hingga akademisi untuk merumuskan desain industri yang efisien. Pemerintah menargetkan hilirisasi ini menjadi solusi jangka panjang bagi ketahanan protein nasional yang menjadi fokus utama dalam kebijakan pangan saat ini.
Tekanan Harga Telur di Bawah Biaya Operasional
Urgensi proyek hilirisasi ini dipicu oleh kondisi riil di lapangan, terutama di sentra produksi seperti Kabupaten Magetan. Presidium PINSAR Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, mencatat produksi telur ayam ras nasional saat ini menyentuh angka 18.000 ton per hari, atau setara dengan 280 juta butir. Namun, tingginya angka produksi ini justru berbanding terbalik dengan kondisi kesejahteraan peternak akibat lemahnya daya beli masyarakat.
Kelebihan pasokan di pasar memicu kejatuhan harga yang cukup dalam. Saat ini, harga telur di tingkat kandang merosot ke level Rp 21.000 per kilogram, turun signifikan dari posisi sebelumnya di angka Rp 26.500 per kilogram. Nilai jual tersebut diklaim sudah berada di bawah biaya operasional yang harus dikeluarkan peternak, sehingga potensi kerugian sektor peternakan rakyat semakin nyata jika tidak segera ditangani melalui mekanisme serapan industri.
Mandat Presiden dan Integrasi Riset Nasional
Direktur Utama PT Berdikari, Maryadi, menegaskan bahwa perusahaan membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan lembaga riset dan akademisi untuk mendesain proyek HAT. Sinergi ini bertujuan agar inovasi teknologi dapat diterapkan langsung dalam proses pengolahan hasil ternak. "Kami membuka inovasi kolaborasi untuk mendesain proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi agar tercipta seperti harapan kita semua," ujar Maryadi dalam keterangan resminya.
Maryadi menambahkan bahwa posisi PT Berdikari sebagai korporasi negara adalah menjadi jembatan antara kepentingan masyarakat, peternak rakyat, dan negara. Dengan adanya fasilitas hilirisasi yang terintegrasi, kelebihan produksi telur maupun ayam tidak lagi hanya menumpuk di pasar tradisional dalam bentuk segar, melainkan bisa diolah menjadi produk turunan yang memiliki masa simpan lebih lama dan nilai ekonomi lebih tinggi.
Konsolidasi Lintas Sektor di Jakarta
Forum strategis yang digelar Berdikari ini dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci, di antaranya Tenaga Ahli Menteri Pertanian Ali Agus dan Direktur Pembibitan dan Produksi Ternak Kementan Harry Suhada. Kehadiran regulator ini memastikan bahwa proyek HAT sejalan dengan peta jalan pembangunan pertanian yang dicanangkan Kementerian Pertanian. Keterlibatan pemerintah pusat menjadi krusial untuk sinkronisasi regulasi dan dukungan anggaran di masa depan.
Dari sisi saintifik, Dekan Fakultas Peternakan UGM Budi Guntoro serta Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN Delicia Yunita Rahman memberikan masukan terkait standarisasi dan teknologi pengolahan. Keterlibatan BRIN dan UGM diharapkan mampu memberikan landasan ilmiah agar proyek hilirisasi ini tidak hanya menjadi proyek fisik, tetapi juga pusat inovasi peternakan nasional yang kompetitif di level regional.
Keberhasilan proyek HAT ini nantinya akan menjadi tolok ukur baru bagi BUMN pangan dalam menjalankan fungsi offtaker atau penyerap hasil produksi rakyat. Dengan rantai pasok yang terintegrasi, stabilitas harga pangan di tingkat konsumen diharapkan dapat terjaga tanpa mengorbankan margin keuntungan para peternak di daerah.