BONTANG — Verifikasi KONI Kaltim mencoret 25 atlet dari daftar awal Bontang karena identitas kependudukan mereka berasal dari luar Kalimantan Timur. Sistem pendataan provinsi menolak otomatis input atlet ber-KTP Sulawesi Selatan dan daerah lain di luar Kaltim.
Andi Amri menjelaskan mekanisme penolakan itu berlangsung berlapis, dari cabang olahraga hingga provinsi. Atlet ber-KTP luar Kaltim yang sudah diinput di cabornya langsung gagal saat diteruskan ke KONI Kaltim.
"Yang tertolak itu ketika dia ber-KTP Sulawesi Selatan, kemudian diinput di cabornya dan diteruskan ke provinsi, akhirnya tertolak secara sistemik," jelas Andi.
Anggaran Belum Cair, Ketua KONI Pakai Uang Pribadi
Persoalan verifikasi bukan satu-satunya hambatan KONI Bontang. Anggaran Porprov Kaltim 2026 belum juga cair, sementara kontingen harus bergerak menyiapkan akomodasi.
Andi mengaku menalangi uang muka atau DP penginapan dengan kocek pribadinya agar persiapan atlet tidak tersendat. Langkah itu diambil karena kebutuhan kontingen mendesak jelang pelaksanaan.
KONI Bontang menyiapkan total 1.162 orang untuk Porprov Kaltim 2026, terdiri dari 876 atlet dan 290 ofisial. Kontingen diproyeksikan turun di 60 cabang olahraga.
Bulu Tangkis Jadi Andalan, Target Empat Besar
Bulu tangkis masuk daftar cabang yang diharapkan menyumbang medali bagi Bontang. Target keseluruhan tim adalah finis di posisi empat besar, dengan peluang menembus tiga besar.
"Kami tidak menargetkan jumlah medali, tetapi targetnya masuk empat besar. Melihat sistem yang berjalan tanpa menggunakan atlet dari luar, mudah-mudahan bisa tiga besar, tetapi paling tidak empat besar bisa kita capai," ungkap Andi.
Verifikasi KTP Dinilai Dorong Pembinaan Atlet Lokal
Aturan KTP Kaltim yang ketat dipandang Andi sebagai momentum memperkuat pembinaan internal daerah. Menurutnya, daerah perlu lebih serius menemukan dan mengembangkan potensi atlet sendiri ketimbang mengandalkan pemain luar.
"Saya sebagai Ketua KONI berterima kasih dengan sistem ini. Artinya, kita punya tantangan untuk melakukan pembinaan internal di daerah," katanya.
Atlet ber-KTP daerah lain di Kaltim masih bisa memperkuat Bontang sepanjang memiliki legalitas dari cabang olahraga asal. Ketentuan itu memberi ruang bagi atlet lintas kabupaten/kota di provinsi yang sama.