Pencarian

Influenza A Meningkat, Perlukah Anak Makanan dan Minuman Khusus

Jumat, 18 September 2026 • 09:22:02 WIB
Influenza A Meningkat, Perlukah Anak Makanan dan Minuman Khusus

KALIMANTAN TIMUR — Kasus influenza A yang meningkat membuat banyak ibu mencari makanan, vitamin, atau suplemen khusus untuk memperkuat daya tahan tubuh anak. Dokter spesialis anak dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp.ETIA(K) menegaskan tidak ada jalan pintas lewat asupan tertentu. Berikut enam hal yang benar-benar perlu diperhatikan orangtua.

Saat kasus influenza A naik, pertanyaan yang paling sering muncul di grup-grup ibu biasanya soal asupan tambahan. Apakah anak perlu vitamin khusus, suplemen daya tahan tubuh, atau minuman kesehatan tertentu?

Dokter Spesialis Anak dari Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp.ETIA(K), menjawabnya lugas dalam acara Morning Zone di YouTube Okezone. Menurutnya, tidak ada makanan, minuman, vitamin, maupun suplemen yang bisa jadi jalan pintas menjaga kesehatan anak.

“Sebenarnya kalau kita bicara suplemen, vitamin, itu tidak ada dalam tanda kutip jalan pintas gitu ya. Jadi tetap membiasakan pola hidup sehat,” ujar dr. Yogi.

1. Makanan Bergizi Seimbang, Bukan Satu Jenis Asupan Khusus

Yang paling utama adalah asupan makanan sehari-hari. Anak membutuhkan gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, dan lemak.

Artinya, ibu tidak perlu terpaku pada satu jenis makanan atau minuman yang diklaim bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Keberagaman dan keseimbangan asupan jauh lebih penting.

“Makanan bergizi seimbang. Ada karbonya, ada proteinnya, ada lemaknya,” ucap dr. Yogi.

Kebutuhan nutrisi juga berbeda sesuai usia dan kondisi masing-masing anak. Pola makan sebaiknya disesuaikan dengan tahap tumbuh kembangnya.

2. Tidur Cukup Sesuai Kelompok Usia

Selain makanan, kecukupan tidur jadi bagian penting menjaga kondisi tubuh anak. Kebutuhan tidur berbeda-beda berdasarkan kelompok usia.

Ada kelompok usia yang butuh tidur hingga sekitar 12 jam sehari, ada yang sekitar 10 jam, dan ada yang 8 jam. Orangtua perlu menyesuaikan dengan usia anak.

“Tidurnya cukup sesuai usia. Karena kan tiap kelompok usia beda-beda ya. Ada yang bisa sampai 12 jam sehari, 10 jam sehari, 8 jam sehari. Itu sesuai kelompok usianya,” jelas dr. Yogi.

3. Anak Tetap Harus Aktif Bergerak

Aktivitas fisik adalah bagian alami dari kehidupan anak. Meski situasi tertentu membuat anak lebih banyak di rumah, orangtua tetap perlu memberi kegiatan yang membuat mereka bergerak.

Anak sebaiknya tidak menghabiskan sebagian besar waktunya duduk atau berbaring di depan gadget maupun televisi. Kegiatan sederhana yang sesuai usia sudah cukup membantu.

“Kemudian harus aktif bergerak. Anak itu, nature-nya itu dia bergerak dan aktif. Jadi jangan dibiarkan untuk mager di depan gadget atau TV, gitu ya. Tetap harus dikasih kegiatan yang dia aktif bergerak,” tutur dr. Yogi.

4. ASI Penting untuk Bayi

Untuk bayi, pemberian air susu ibu atau ASI tetap jadi perhatian penting. dr. Yogi menjelaskan ASI mengandung imunoglobulin yang diberikan ibu kepada bayi dan membantu memberikan perlindungan.

“Kemudian, ASI untuk bayi itu penting banget ya. Karena dalam ASI ada imunoglobulin yang diberikan oleh ibu ke bayi melalui ASI dan itu bisa membantu untuk melindungi si bayi,” kata dr. Yogi.

5. Hindari Paparan Asap Rokok

Lingkungan tempat anak berada juga perlu diperhatikan. Salah satunya memastikan anak terhindar dari asap rokok.

Paparan asap rokok tidak hanya perlu diwaspadai saat seseorang merokok langsung di dekat anak. Partikel asap rokok juga bisa menempel pada pakaian dan tubuh.

dr. Yogi menyarankan orang yang terpapar asap rokok di luar rumah untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian sebelum berinteraksi dengan anak. Langkah ini mengurangi kemungkinan anak terpapar residu asap rokok yang terbawa pulang.

“Dan salah satu hal yang juga kadang-kadang terlewatkan adalah hindari asap rokok. Sekarang bukan cuma bapak-bapak, tapi ibu-ibu juga ya. Jadi, hindari asap rokok. Kalaupun misalnya di luar rumah kita terpapar dengan teman kerja atau di perjalanan dengan asap rokok, maka begitu sampai di rumah, pastikan sebelum menyentuh anak, kita mandi dulu yang bersih, ganti baju dan sebagainya, baru bertemu dengan anak,” ujar dr. Yogi.

6. Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter

Jika anak menunjukkan gejala seperti demam tinggi, batuk berat, atau sesak napas, segera bawa ke dokter. Anak dengan kondisi kesehatan khusus juga perlu pendampingan medis tersendiri.

Pola hidup sehat yang konsisten jauh lebih efektif dibanding mengandalkan satu produk instan. Mulai dari makanan bergizi seimbang, tidur cukup, aktif bergerak, ASI untuk bayi, hingga lingkungan bebas asap rokok.

Semua itu bisa ibu mulai dari rumah, tanpa perlu membeli asupan tambahan yang belum tentu terbukti manfaatnya.

Follow halobontang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: rctiplus.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks