KALIMANTAN TIMUR — Penyelenggaraan tahun ini mengusung format yang melibatkan partisipasi masyarakat luas lewat tahapan community vetting. Masyarakat ikut mengkurasi dan mengapresiasi karya para finalis sebelum dewan juri menentukan pemenang.
Persaingan Finalis Berujung Juara Bersama
Deputy Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Felicia Hanitio, mengungkap ketatnya persaingan antarsineas muda tahun ini. Perolehan nilai antarfinalis sempat berada di posisi seri, hingga dewan juri menyepakati adanya juara bersama.
"Tadi sebenarnya pas ngobrol dengan Mas Zaidy, sulit sekali ya menentukan satu pemenang. Skornya tie dan akhirnya diputuskan jadi ada pemenang bersama," kata Felicia Hanitio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, kemarin.
Felicia menilai karya yang lahir tahun ini membuktikan tingginya kepekaan dan rasa ingin tahu sineas muda terhadap persoalan sosial di lingkungan sekitar.
"Cirinya tuh anak muda yang rasa ingin tahunya tinggi, terus mereka gali dan akhirnya berkarya untuk mengangkat perspektif yang mereka pelajari," ujarnya.
Kategori AI dan Tema Pemberdayaan Komunitas
Festival tahun ini mengangkat tema utama pemberdayaan komunitas. Gebrakan anyar muncul lewat hadirnya kategori film berbasis AI yang dibuka untuk mewadahi kreator memaksimalkan inovasi teknologi pada proses kreatif.
"Tahun ini kita juga ada kategori AI. Itu salah satu tools yang bisa digunakan teman-teman untuk berkarya," kata Head of Program Campaign for Good, Ahmad Aziz.
Ahmad Aziz menyambut gembira tingginya keterlibatan masyarakat dari berbagai pelosok negeri dalam festival ini.
"Kita mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia. Ada 38 provinsi yang berpartisipasi dan lebih dari 7.000 orang yang menonton film-film teman-teman finalis," ujar Ahmad Aziz.
Film Mikro sebagai Medium Cerita Isu Sosial
Head of Strategic & Impact Communications Tanoto Foundation, Deviani Wulandari, menilai film berdurasi mikro merupakan medium storytelling yang ampuh dalam membedah persoalan rumit sekaligus menyebarkan praktik baik ke ranah publik.
"Saya sangat applause buat para finalis yang telah bekerja keras mengangkat isu yang mungkin belum banyak dikenal orang," ucap Deviani Wulandari.
Masuknya kategori AI di festival ini menandai pergeseran cara pandang industri film mikro terhadap teknologi. Kreator muda kini punya jalur resmi untuk menguji inovasi tanpa meninggalkan akar cerita soal kepedulian sosial.