BALIKPAPAN — Aktivitas tender di Kalimantan Timur mulai bergeliat memasuki Juli 2026, memberikan secercah harapan bagi kontraktor yang selama enam bulan sebelumnya mengeluhkan sepinya proyek. Efisiensi anggaran yang ketat dan ketidakpastian kebijakan membuat banyak perusahaan konstruksi bertahan dengan volume pekerjaan minimal.
Oknum Sopir Angkutan Umum di Palembang Aniaya Pelajar Hingga Tewas, Polisi Amankan 1 Orang
Direktur PT Mitra Lindung Sarana, Agung Wahyono, mengakui kondisi kuartal pertama tahun ini sangat berat bagi hampir semua pelaku usaha konstruksi, baik yang menggarap proyek pemerintah maupun swasta. “Sebelum Juli memang kami akui kondisinya sepi. Efisiensi masih sangat terasa dibandingkan tahun lalu. Banyak proyek yang belum bergerak,” katanya di Ballroom Hotel Novotel Balikpapan, Kamis (9/7/2026).
Kenaikan Harga Material Impor Berbasis Minyak
Perusahaan yang bergerak di bidang spesialis kimia bangunan ini mengaku sangat terdampak fluktuasi nilai tukar rupiah. Sebagian besar material seperti waterproofing, flooring, dan grouting yang mereka gunakan adalah produk impor berbasis minyak.
“Kenaikan harga material cukup signifikan. Produk yang kami gunakan banyak yang impor dan berbasis minyak. Itu membuat biaya pekerjaan ikut meningkat,” tutur Agung.
Pasar Utama Berbeda dari Kontraktor Umum
Berbeda dengan kontraktor umum yang mengandalkan proyek gedung atau infrastruktur pemerintah, PT Mitra Lindung Sarana justru menyasar sektor industri sebagai pasar utama. Perusahaan ini juga menangani pemasangan rubber fender untuk kebutuhan pelabuhan.
Memasuki Juli, Agung melihat perubahan. Sejumlah perusahaan industri mulai membuka tender kembali. “Mulai Juli sudah mulai ada peningkatan. Beberapa proyek sudah diumumkan dan siap dikerjakan. Kami optimistis pertumbuhan bisa terus berlanjut sampai Desember,” ujarnya.
Ketidakpastian Global Ikut Menekan Bisnis Konstruksi
Agung menambahkan, perlambatan yang terjadi bukan hanya karena faktor dalam negeri. Ketidakpastian ekonomi global ikut memberikan tekanan, terutama bagi perusahaan yang bergantung pada material impor. Meski begitu, optimisme mulai muncul seiring meningkatnya jumlah tender yang diumumkan pada paruh kedua tahun ini.