KALIMANTAN TIMUR — Berdasarkan laporan Financial Times pekan lalu, Apple tak lagi sekadar berdiskusi dengan CXMT dan produsen chip China lainnya, Yangtze Memory Technologies (YMTC). Perusahaan asal Cupertino itu kini sudah masuk ke tahap kualifikasi teknis—proses validasi yang biasanya dilakukan sebelum seorang pemasok resmi disetujui untuk produksi massal.
Meski begitu, Apple belum memberikan komitmen penuh untuk menggunakan chip CXMT secara komersial. Tim Cook disebut masih memimpin lobi bersama perusahaan teknologi AS lainnya untuk mendapatkan izin politik dari Washington agar penggunaan pemasok China ini bisa diperluas.
Mengapa Apple 'Menggoda' Pemasok China?
Ada dua alasan besar. Pertama, harga kontrak DRAM standar diperkirakan melonjak 55 hingga 60 persen di awal 2026. Penyebabnya adalah permintaan server AI yang menggerus kapasitas produksi untuk perangkat konsumen. Kenaikan ini sudah terasa: Apple baru saja menaikkan harga di hampir seluruh lini produknya.
Kedua, CXMT kini menjadi pemain keempat terbesar DRAM global dengan pangsa 11 persen dari kapasitas produksi wafer dunia tahun lalu. Angka ini diprediksi naik ke 15 persen pada 2028 berkat pabrik baru di Hefei, Shanghai, dan Beijing. Dengan memiliki CXMT sebagai pemasok yang sudah tervalidasi, Apple bisa langsung memanfaatkan kapasitas itu begitu lampu hijau politik menyala—tanpa harus memulai proses pengujian dari nol.
Risiko Politik: Antara Daftar Hitam dan Entity List
CXMT dan YMTC sama-sama masuk dalam daftar 1260H Pentagon, yang mengaitkan perusahaan tersebut dengan militer China. Namun secara praktik, daftar ini hanya memblokir kontrak Departemen Pertahanan AS, bukan transaksi komersial biasa. Artinya, secara hukum Apple bisa membeli chip CXMT hari ini juga.
Masalahnya ada pada YMTC yang masuk Entity List Departemen Perdagangan AS. Status itu mewajibkan perusahaan Amerika memiliki lisensi ekspor khusus untuk bisa berbisnis dengannya. Yang Apple khawatirkan adalah CXMT menyusul YMTC masuk Entity List suatu hari nanti, yang otomatis memutus pasokan.
Oleh karena itu, yang Apple minta dari pemerintah AS bukanlah izin membeli sekarang, melainkan jaminan bahwa CXMT tidak akan dimasukkan ke Entity List di masa depan.
Strategi Tim Cook: Chip China untuk Pasar China
Menurut laporan Bloomberg, Tim Cook secara langsung menyampaikan proposal ini ke pejabat administrasi AS. Argumen utamanya: chip memori buatan China hanya akan digunakan untuk perangkat yang dijual di pasar China. Dengan begitu, pasokan DRAM dari Samsung, SK Hynix, dan Micron bisa lebih banyak dialokasikan untuk produk yang dijual di luar China.
Strategi ini sebenarnya bukan yang pertama. Pada 2022, Apple sempat mencoba pendekatan serupa dengan YMTC, tapi gagal setelah mendapat tekanan dari anggota Kongres AS. Kini, belum semua pihak di pemerintahan AS setuju dengan rencana Apple, sehingga hasil lobi ini masih belum jelas.
Apa Artinya bagi Konsumen?
Jika Apple berhasil mengamankan CXMT sebagai pemasok keempat, konsumen di China kemungkinan akan melihat perangkat dengan chip memori buatan lokal. Sementara di pasar global, termasuk Indonesia, pasokan chip dari Samsung, SK Hynix, dan Micron justru bisa lebih longgar—yang berpotensi menahan laju kenaikan harga perangkat Apple di masa depan.
Namun, semua ini masih tergantung pada keputusan politik Washington. Untuk saat ini, pengujian teknis masih berlangsung, dan belum ada kepastian kapan—atau apakah—chip CXMT benar-benar akan muncul di iPhone atau Mac yang Anda beli.