SAMARINDA — Puluhan penyintas yang tergabung dalam kelompok dukungan sebaya dari berbagai wilayah di Kalimantan Timur berkumpul untuk memperkuat resiliensi mental dan penerimaan diri. Pertemuan yang digelar di Tranz MAV Hotel Samarinda ini menjadi ruang aman bagi Orang dengan HIV (ODHIV) untuk saling menguatkan di tengah tantangan sosial yang masih membayangi.
Fokus Kesehatan Mental: Mengelola Pikiran Negatif dan Overthinking
Kesehatan mental menjadi materi krusial yang ditekankan dalam pertemuan tersebut. Trainer IPPRISIA Kalimantan Timur, Endro S Efendi, menjelaskan bahwa beban psikologis seringkali terasa lebih berat dibandingkan gejala fisik yang dirasakan oleh para penyintas.
“Kadang yang paling melelahkan bukan penyakitnya, tetapi pikiran negatif yang terus dipendam sendiri,” ujar Endro yang juga merupakan hipnoterapis klinis saat memberikan materi kepada peserta.
Melalui pendekatan experience learning, para peserta diajak melakukan refleksi diri, teknik relaksasi, hingga afirmasi positif. Sesi ini dirancang untuk membantu ODHIV mengatasi kecemasan dan overthinking berkepanjangan yang sering muncul akibat tekanan label negatif dari lingkungan sekitar.
Endro menegaskan bahwa status kesehatan seseorang tidak boleh mengurangi nilai kemanusiaan mereka. Ia berpesan agar setiap peserta tetap optimis dalam menjalani keseharian. “Status boleh berubah, tetapi nilai diri seseorang tidak pernah berubah,” tegasnya.
Pentingnya Dukungan Sebaya dalam Menghadapi Diskriminasi
Selain aspek psikologis, peran komunitas dianggap sebagai fondasi utama dalam menjaga kepatuhan pengobatan dan kualitas hidup. Ketua Ikatan Penata Persona Indonesia (IPPRISIA) Provinsi Kalimantan Timur, Marliana Wahyuningrum, menyoroti bahwa stigma dan diskriminasi masih menjadi tembok besar bagi ODHIV.
“ODHIV tidak boleh merasa sendiri. Dukungan sebaya memiliki kekuatan besar untuk membantu proses penerimaan diri, menjaga kepatuhan pengobatan, dan meningkatkan kualitas hidup,” kata Marliana.
Komunitas berfungsi sebagai sistem pendukung yang memastikan anggotanya tidak terisolasi secara sosial. Dengan saling berbagi pengalaman, para penyintas diharapkan dapat lebih produktif dan percaya diri dalam menjalankan peran mereka di masyarakat.
Sinergi Komunitas dari Empat Wilayah di Kalimantan Timur
Pertemuan ini melibatkan peserta aktif dari Samarinda, Balikpapan, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara. Ketua Kelompok Penggagas Mahakam Plus Kalimantan Timur, Siwi Arianti, menyatakan bahwa pendampingan komunitas kini tidak hanya bertumpu pada aspek medis semata.
“Kegiatan ini menjadi ruang penguatan bersama agar ODHIV semakin memiliki semangat hidup dan saling mendukung satu sama lain,” jelas Siwi. Menurutnya, keseimbangan antara pengobatan fisik dan kesehatan mental adalah kunci keberhasilan pendampingan.
Agenda berskala provinsi ini diselenggarakan oleh KP Mahakam Plus Kalimantan Timur dengan dukungan Yayasan Spiritia. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperluas jangkauan dukungan sebaya hingga ke tingkat kabupaten/kota lainnya di Bumi Etam.