Target Bauran EBTKI 2026 Turun ke 17,3 Persen, ESDM Sebut Butuh Dukungan Semua Pihak

Penulis: Aditya Nugraha  •  Selasa, 08 September 2026 | 11:50:31 WIB
Target bauran EBTKI 2026 direvisi menjadi 17,3 persen, Kementerian ESDM menekankan perlunya dukungan semua pihak untuk mencapai target tersebut.

KALIMANTAN TIMUR — Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyebut fluktuasi ini menunjukkan bahwa transisi energi bukan sekadar soal teknologi, investasi, atau kebijakan. Faktor sumber daya manusia (SDM) yang kompeten juga menjadi kunci agar target yang dicanangkan bisa tercapai.

"Dari data kita lihat grafiknya memang naik, capaian investasi dan juga implementasi, tetapi memang kadang-kadang terkoreksi, bahkan triwulan pertama kemarin 18,3 persen, sekarang terkoreksi sedikit," jelasnya di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Mengapa Capaian EBT Masih Fluktuatif?

Penurunan porsi EBT di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional menjadi pekerjaan rumah yang tidak sederhana. Eniya menekankan, pengembangan energi hijau membutuhkan kerja kolektif dari berbagai elemen, termasuk akademisi, korporasi, dan masyarakat.

Apresiasi EBTKE 2026 yang diberikan kepada sejumlah individu dan lembaga menjadi salah satu upaya untuk mendorong partisipasi aktif. Para penerima penghargaan tersebut dinilai memiliki komitmen nyata dalam pengembangan EBT, antara lain Novia Utami Putri dari Politeknik Negeri Lampung, Mada Ayu Habsari dari Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), dan Rita Kefi dari Yayasan Humanis.

Peran Perempuan dalam Transisi Energi

Menariknya, keterlibatan perempuan di sektor energi bersih mulai mendapat sorotan. Mada Ayu Habsari dari AESI menilai, sektor ini selama ini didominasi laki-laki. Padahal, kontribusi perempuan sangat penting untuk mendorong dekarbonisasi dan menciptakan sistem energi yang lebih inklusif.

"Dengan mengakui dan memperkenalkan perempuan yang telah berkontribusi dalam energi bersih dan dekarbonisasi, kita dapat meningkatkan visibilitas mereka sebagai role model, sekaligus mendorong lebih banyak perempuan untuk terlibat dalam sektor energi," ujar Mada.

Dukungan Pemerintah: Dari Biofuel hingga Kemandirian Energi

Di sisi lain, pemerintah terus mencari celah untuk mempercepat transisi energi. Presiden Prabowo Subianto menilai krisis global justru menjadi momentum bagi Indonesia untuk lebih agresif mengembangkan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada pasokan global yang rapuh.

"Krisis dunia ini bagi saya adalah peluang untuk mempercepat langkah kita. Ini membuat kita lebih fokus. Berarti strategi kita sudah benar, tetapi kita harus mempercepat bahwa energi kita harus terbarukan," ujar Prabowo dalam taklimat di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Salah satu langkah yang didorong adalah pengembangan bahan bakar nabati (biofuel). Kepala negara menyebut singkong dan jagung berpotensi menjadi bahan baku pengganti solar maupun bensin, di samping pemanfaatan batu bara melalui proses gasifikasi.

"Dan kita bisa dari batu bara, kita bisa menghasilkan solar dan bensin dari batu bara, dari singkong, dari jagung," ucapnya.

Langkah ini dinilai strategis untuk menekan impor bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini membebani anggaran negara, sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia secara lebih optimal.

Dengan berbagai tantangan dan peluang yang ada, konsistensi kebijakan dan kolaborasi lintas sektor menjadi harga mati. Tanpa itu, target bauran EBT yang sudah dicanangkan pemerintah berisiko terus meleset dari harapan.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top