Ekonom Trimegah: Indonesia Butuh Arus Modal Asing US$ 11 Miliar di Semester II 2026

Penulis: Chandra Kusuma  •  Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:01:31 WIB
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyampaikan proyeksi kebutuhan arus modal asing sebesar US$ 11 miliar pada semester II 2026.

KALIMANTAN TIMUR — Tekanan inflasi yang mereda dan manufaktur yang kembali ekspansi memberi ruang napas bagi ekonomi domestik. Namun, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengingatkan bahwa stabilitas eksternal kini menjadi pekerjaan rumah utama pemerintah pada paruh kedua tahun ini.

Data terbaru menunjukkan inflasi tahunan turun ke 2,88 persen pada Juli 2026, lebih rendah dari 3,34 persen pada bulan sebelumnya. Normalisasi harga bawang merah dan cabai menjadi pendorong utama. Di sektor riil, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur berada di level 50,2, menandakan aktivitas produksi mulai pulih.

Defisit Beruntun dan Tekanan pada Transaksi Berjalan

Fakhrul menjelaskan, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit pada Mei dan Juni 2026. Kondisi ini diperkirakan mendorong defisit transaksi berjalan kuartal II 2026 mencapai US$ 7,7 miliar, atau setara 2,1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Secara keseluruhan, Balance of Payments (BoP) diproyeksikan masih mengalami defisit sekitar US$ 2,6 miliar. Situasi ini menegaskan bahwa pembiayaan eksternal menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Target Investasi Portofolio dan Risiko Kebijakan The Fed

"Dalam kondisi saat ini, menjaga capital inflow menjadi prioritas. Indonesia masih membutuhkan sekitar US$ 11 miliar tambahan investasi portofolio pada semester kedua tahun ini agar keseimbangan eksternal tetap terjaga dan volatilitas rupiah dapat diminimalkan," ujar Fakhrul dalam keterangannya, Selasa (4/8/2026).

Ia menambahkan, upaya mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik semakin penting karena persaingan arus modal global diprediksi menguat. Risiko terbesar berasal dari arah kebijakan moneter AS apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga atau mempertahankannya lebih lama dari ekspektasi pasar.

"Dalam situasi seperti itu, negara berkembang termasuk Indonesia harus mampu menjaga kredibilitas fiskal, stabilitas moneter, serta daya tarik pasar obligasi domestik," jelasnya.

Fundamental Domestik Masih Menopang Optimisme

Meski menghadapi tekanan eksternal, Fakhrul menilai fundamental ekonomi Indonesia masih memberikan ruang optimisme. Meredanya harga pangan, membaiknya manufaktur, dan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha menjadi modal penting untuk menopang pertumbuhan di paruh kedua 2026.

"Di satu sisi kita mulai melihat pemulihan aktivitas ekonomi domestik, tetapi di sisi lain kita harus memastikan Indonesia tetap menjadi tujuan investasi portofolio yang kompetitif di tengah ketidakpastian global," pungkasnya.

Stabilitas nilai tukar rupiah, menurutnya, akan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga kepercayaan investor melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter serta komunikasi kebijakan yang konsisten.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: infopublik.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top