KALIMANTAN TIMUR — Berdasarkan data pasar, kurs rupiah melemah 0,24 persen dari posisi sebelumnya di Rp18.065 per dolar AS. Bank Indonesia mencatat kurs Jisdor turun ke Rp18.131 per dolar AS, dari sebelumnya Rp18.069 per dolar AS. Tekanan terbesar datang dari sentimen geopolitik yang memanas di Timur Tengah.
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, kepanikan di sektor valuta asing dipicu aksi saling serang rudal dan drone antara militer AS dan Iran. Teheran dilaporkan menargetkan fasilitas AS di negara-negara kawasan Teluk pada Minggu (12/7) dan kembali menutup Selat Hormuz.
"Hambatan logistik jalur laut global kini berada di depan mata akibat ketegangan militer tersebut," ujar Ibrahim.
Konflik bersenjata ini juga merusak harapan perjanjian sementara AS-Iran yang sempat dinegosiasikan selama 60 hari. Pembatalan pembukaan Selat Hormuz memicu kekhawatiran gelombang inflasi baru akibat lonjakan biaya logistik dunia.
Di sisi lain, risalah pertemuan Federal Reserve bulan Juni menunjukkan kekhawatiran para pejabat bank sentral terhadap tekanan inflasi yang masih tinggi. Sinyal untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih panjang semakin menguat. "Beberapa pembuat kebijakan percaya ada alasan untuk menaikkan suku bunga, sementara para pejabat secara umum menyatakan kekhawatiran lebih besar atas tekanan inflasi," jelas Ibrahim.
Kondisi ini mendorong investor global untuk berbondong-bondong mengamankan portofolio ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada dalam posisi tertekan. Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran dan data inflasi AS pekan ini yang bisa menentukan arah kebijakan suku bunga global.