KALIMANTAN TIMUR — Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa kenaikan harga bawang putih di tingkat pedagang menjadi salah satu sorotan utama. "Kenaikan bawang putih ini terutama disebabkan oleh peningkatan biaya logistik dan juga adanya penguatan nilai tukar dolar Amerika terhadap Rupiah," jelasnya dalam pemaparan daring.
Kondisi harga pangan di dalam negeri menunjukkan arah yang bertolak belakang. Di satu sisi, produksi bawang merah justru melimpah di sejumlah sentra seperti Brebes, Solok, Bima, dan Sumbawa. Namun, pasokan nasional belum merata karena beberapa daerah lain seperti Enrekang (Sulawesi Selatan), Demak (Jawa Tengah), Malang, dan Sampang (Jawa Timur) justru mengalami penurunan produksi.
Berbeda dengan bawang merah, harga bawang putih yang sebagian besar masih dipasok dari impor tertekan oleh dua faktor eksternal. Pertama, biaya pengiriman yang lebih mahal, dan kedua, nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS. Kombinasi ini membuat harga di tingkat konsumen ikut terkerek naik.
Di sektor energi, PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi sebanyak dua kali sepanjang Juni. Pada 1 Juni, harga Pertamax Turbo naik Rp850 atau sekitar 4 persen. Sebaliknya, harga Dexlite dan Pertamina Dex justru turun signifikan, masing-masing terkoreksi Rp3.100 (12 persen) dan Rp3.150 (11 persen).
Namun, sembilan hari berselang, tepatnya pada 10 Juni, Pertamina kembali mengubah harga. Kali ini giliran Pertamax yang melonjak Rp4.050 atau sekitar 32 persen dari harga sebelumnya. Langkah ini menjadi koreksi terbesar di antara jenis BBM nonsubsidi lainnya selama bulan lalu.
BPS juga mencatat pelemahan harga di pasar komoditas internasional. Harga minyak sawit mentah (CPO) tercatat turun selama dua bulan berturut-turut pada Mei-Juni, mengakhiri tren kenaikan yang sempat terjadi sejak awal tahun. Sementara itu, harga minyak mentah dunia pada Juni berada di rata-rata USD82,82 per barel atau setara sekitar Rp1,41 juta per barel.
Yang paling mencolok adalah performa emas. Logam mulia yang kerap dijadikan aset lindung nilai ini justru melanjutkan penurunan untuk bulan keempat secara beruntun. "Harga emas kembali mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan Mei tahun 2026. Dengan ini penurunan harga emas sudah terjadi sejak empat bulan berturut-turut," kata Ateng.
Kondisi ini menjadi sinyal bagi investor dan pelaku pasar untuk lebih cermat membaca arah pergerakan harga, terutama di tengah ketidakpastian nilai tukar dan biaya logistik yang masih tinggi.