Bulog Punya Stok Beras 4,6 Juta Ton, Gudang Masih Sisa 2 Juta Ton

Penulis: Chandra Kusuma  •  Rabu, 04 November 2026 | 14:19:32 WIB
Petugas Bulog memeriksa kondisi beras di gudang untuk memastikan mutu cadangan pangan pemerintah tetap terjaga.

KALIMANTAN TIMUR — Perum Bulog menyimpan stok beras 4,6 juta ton di jaringan gudang seluruh Indonesia, dengan kapasitas terpakai sekitar 70 persen dari total 6,7 juta ton. Sisa ruang sekitar 2 juta ton disiapkan untuk menyerap panen petani dan menjaga cadangan beras pemerintah menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.

Kapasitas penyimpanan Bulog terdiri atas gudang operasional 3,2 juta ton dan gudang sewa atau filial 3,5 juta ton. Kombinasi keduanya membuat perseroan masih memiliki ruang gerak untuk menambah persediaan tanpa harus membangun fasilitas baru.

Ruang kosong itu bukan sekadar angka di atas kertas. Bulog memakainya untuk menyerap gabah dan beras hasil panen petani, sekaligus memastikan pasokan tetap tersedia saat permintaan pangan naik di akhir tahun.

Mengapa Stok Besar Belum Cukup

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan, pengelolaan stok tidak berhenti pada jumlah persediaan. Kualitas beras selama masa simpan menjadi tanggung jawab yang sama besarnya.

"Stok yang besar tidak berarti apa-apa jika mutunya tidak terjaga. Di balik setiap karung beras ada jerih payah petani dan amanah masyarakat. Karena itu setiap tahapan, dari penerimaan, penyimpanan, hingga penyaluran, harus dijalankan dengan disiplin, jujur, dan penuh tanggung jawab," ujar Ahmad Rizal Ramdhani dalam keterangan resmi, Rabu, 4 November.

Untuk menjaga mutu cadangan beras pemerintah, petugas Bulog melakukan pemeriksaan fisik secara berkala. Pengawasan mencakup kebersihan dan kondisi lingkungan gudang agar beras terlindungi dari hama maupun kelembapan.

Pencatatan stok juga dikontrol agar tertib, akurat, dan bisa dipertanggungjawabkan. Di lapangan, petugas gudang menghadapi tantangan tersendiri, mulai dari cuaca ekstrem hingga upaya menjaga kondisi beras selama penyimpanan.

Beban Kerja yang Tak Terlihat

Rizal menyebut pekerjaan di gudang jarang terlihat masyarakat, padahal menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Pemeriksaan karung, penjagaan gudang, hingga penyaluran berjalan setiap hari di berbagai daerah.

"Setiap karung yang diperiksa, setiap gudang yang dijaga, dan setiap penyaluran yang dilaksanakan adalah bagian dari pengabdian kepada bangsa dan negara. Kepercayaan masyarakat harus kita buktikan melalui kerja nyata setiap hari," tegasnya.

Dengan stok yang ada, Bulog memastikan siap menjalankan sejumlah penugasan pemerintah. Penugasan itu meliputi stabilisasi pasokan dan harga, bantuan pangan, hingga penanganan kebutuhan darurat akibat bencana.

Menanti Panen dan Nataru

Sisa kapasitas 2 juta ton menjadi modal Bulog untuk menyerap hasil panen petani pada periode berikutnya. Tanpa ruang simpan yang memadai, penyerapan berpotensi tersendat dan harga di tingkat petani bisa tertekan.

Perseroan juga menyiapkan stok untuk menghadapi kenaikan permintaan pangan selama Natal 2026 dan Tahun Baru 2027. Periode itu biasanya ditandai lonjakan konsumsi beras rumah tangga maupun kebutuhan industri makanan.

Bagi petani, ketersediaan ruang gudang berarti kepastian pembelian saat panen raya. Bagi konsumen, cadangan beras pemerintah menjadi bantalan ketika pasokan pasar menipis atau harga mulai bergerak naik.

Posisi Bulog kini bertumpu pada dua hal sekaligus: menjaga mutu 4,6 juta ton beras yang sudah tersimpan, dan memastikan 2 juta ton ruang kosong benar-benar terpakai untuk menyerap panen. Keduanya menentukan seberapa kuat cadangan pangan pemerintah menghadapi akhir tahun.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top