KALIMANTAN TIMUR — Perencana keuangan Melvin Mumpuni menyebut hampir semua klien yang ingin hidup dari dividen melakukan kesalahan yang sama: langsung berburu saham dengan yield tertinggi tanpa menghitung kebutuhan hidup. Simulasi Finansialku.com menunjukkan target pendapatan Rp 100 juta per tahun butuh modal Rp 1 miliar pada asumsi dividend yield 10%.
Perhitungan itu berangkat dari rumus sederhana: target pendapatan tahunan dibagi asumsi dividend yield. Dengan target Rp 100 juta dan yield 10%, modal yang perlu disiapkan Rp 1 miliar. Angka itu belum memasukkan faktor inflasi yang menggerus daya beli sepanjang tahun.
Melvin memakai asumsi inflasi 5% per tahun untuk menunjukkan dampaknya. Selisih antara dividend yield 10% dan inflasi 5% menyisakan 5%, sehingga target Rp 100 juta dibagi 5% menghasilkan kebutuhan modal Rp 2 miliar.
Simulasi itu penyederhanaan. Dalam praktiknya, laba emiten, kebijakan dividen, harga saham, dan inflasi bergerak dari tahun ke tahun sehingga hasil riil bisa jauh dari hitungan awal.
Melvin mengingatkan investor jangka panjang untuk tidak berhenti pada dividend yield yang tertera di aplikasi sekuritas. Rasio itu membandingkan dividen dengan harga saham terkini, bukan dengan harga saat investor membeli.
Untuk itu ia memperkenalkan yield on cost, yakni dividen dibagi harga beli awal. Ilustrasinya: saham perusahaan pengembang dibeli 2020 di Rp 310 per lembar dengan modal sekitar Rp 300 juta, menghasilkan sekitar 967.000 lembar.
Dividen yang diterima berfluktuasi. Sekitar Rp 14 juta pada 2021, melonjak ke Rp 97 juta pada 2022, turun ke Rp 39 juta pada 2023, lalu naik ke Rp 73 juta pada 2024. Pada 2025 dan 2026 dividen bertahan di kisaran Rp 106 juta per tahun.
Akumulasi enam tahun mencapai sekitar Rp 435 juta, melampaui modal awal Rp 300 juta. Hitungan itu belum memotong pajak, biaya transaksi, dan perubahan nilai investasi.
Investor yang membeli saham sama pada 2026 di harga Rp 1.064 per lembar hanya mendapat dividend yield sekitar 10% dari dividen Rp 110 per lembar. Pemegang saham lama di harga Rp 310 menikmati yield on cost sekitar 35% dari dividen yang identik.
Selisih itu memperlihatkan harga masuk portofolio sama pentingnya dengan memilih emiten. Melvin tetap memberi catatan: dividen masa lalu tidak menjamin besaran dividen di masa depan.
Membangun portofolio dividen bisa dimulai dari modal kecil, lalu ditambah bertahap. Yang menentukan hasil akhir bukan besarnya modal awal, melainkan konsistensi menambah kepemilikan saham dan disiplin menjalankan rencana.
Melvin menyoroti kebiasaan investor yang terus berpindah strategi: mengejar saham dividen, beralih ke saham yang sedang naik, lalu ikut tren lain. Pola itu membuat target pendapatan pasif makin jauh.
“Banyak calon klien yang saya temui ingin hidup dari dividen dan hampir semuanya melakukan kesalahan yang sama, yaitu langsung sibuk mencari saham dengan dividen paling tinggi tanpa pernah menghitung apakah jumlahnya cukup untuk membiayai hidup mereka,” ujar Melvin dalam video di kanal YouTube Finansialku.com bertajuk Cape Kerja, Mau Hidup dari Dividen Saham Butuh Modal Berapa?
Bagi investor ritel Indonesia, dividen juga dikenai pajak final sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga pendapatan bersih lebih kecil dari angka simulasi. Faktor lain yang perlu masuk hitungan adalah konsistensi pembayaran dividen emiten dan sektor tempat perusahaan beroperasi.