SAMARINDA — Rencana pemakaian komposter fiberglass masuk dalam upaya pengelolaan limbah domestik agar tidak sepenuhnya membebani kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pemkot menilai pengolahan sampah perlu dimulai dari lingkungan RT, bukan hanya diselesaikan di hilir.
Material fiberglass dipilih karena dinilai lebih tahan lama dibanding plastik biasa maupun beton. Kapasitas tampung 140 liter dianggap ideal untuk mengolah sisa dapur satu keluarga setiap hari.
Ketahanan material menjadi pertimbangan utama. Fiberglass disebut lebih tahan terhadap perubahan cuaca ekstrem di Kalimantan dibanding wadah konvensional.
Desainnya dibuat hemat ruang sehingga cocok untuk pemukiman padat penduduk. Sistem ventilasi di dalam wadah mempercepat penguraian sampah organik menjadi pupuk cair maupun padat.
Ventilasi yang baik juga mengurangi potensi bau tidak sedap dari tumpukan sampah basah. Persoalan bau selama ini jadi alasan warga enggan memilah sampah di rumah.
Pendanaan Probebaya di setiap RT menjadi pintu masuk program ini. Karena menyentuh level akar rumput, warga punya kesempatan langsung terlibat menjaga kebersihan lingkungan sendiri.
Pemkot akan memberikan pendampingan teknis saat alat mulai dioperasikan. Edukasi penggunaan komposter dinilai krusial agar program tidak berhenti di serah terima alat.
Distribusi alat diminta tepat sasaran dan tepat guna. Koordinasi lintas sektor antar instansi terkait perlu diperkuat agar target pengurangan sampah makro kota tercapai sesuai tenggat yang ditetapkan.
Hasil pengolahan sampah organik berupa pupuk kompos dapat mendukung gerakan pertanian perkotaan. Nilai ekonomis ini membuat program tidak berhenti pada urusan pembuangan sampah.
Prinsip ekonomi sirkular jadi kerangka program pengadaan komposter. Sampah dapur berubah menjadi bahan produktif yang bisa dipakai warga sendiri.
Wali Kota Samarinda menegaskan komitmen ini sejalan dengan visi kota sebagai pusat peradaban yang bersih, nyaman, dan modern. Pernyataan itu disampaikan tanpa merinci jumlah unit komposter yang akan digelontorkan pada tahap pertama.
Jika berjalan di seluruh kecamatan, beban lingkungan kota diharapkan berkurang signifikan. Pemkot belum membeberkan jadwal pasti distribusi alat ke tiap kelurahan.