Komdigi Terapkan IGRS, Sistem Rating Game Nasional Pertama di Asia Tenggara

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 14:20:01 WIB
Kementerian Komunikasi dan Digital menerapkan Indonesia Game Rating System (IGRS) sebagai sistem klasifikasi game berbasis usia pertama di Asia Tenggara.

KALIMANTAN TIMUR — Komdigi resmi menetapkan Indonesia Game Rating System (IGRS) sebagai sistem klasifikasi game berbasis usia, dengan 3.623 game telah diverifikasi manual hingga September 2026. Sistem ini menjadi yang pertama di Asia Tenggara dan berlaku bagi game lokal maupun global. Psikolog menilai rating usia penting sebagai langkah preventif, tetapi pengawasan orang tua tetap menjadi kunci perlindungan anak.

Komdigi mewajibkan studio dan publisher mengklasifikasikan game mereka ke dalam lima kategori usia: 3+, 7+, 13+, 15+, dan 18+, plus kategori RC (Refused Classification) untuk konten yang ditolak. Verifikasi dilakukan lewat proses manual, bukan sekadar pengisian formulir otomatis oleh pengembang.

Dari 3.623 game yang terdaftar hingga 17 April 2026, mayoritas masuk kategori 3+ sebanyak 1.855 game. Kategori 13+ menyusul dengan 953 game, disusul 18+ sebanyak 605 game, 15+ sebanyak 138 game, dan 7+ hanya 1 game. Sebanyak 71 game masuk kategori RC.

Mengapa Rating Usia Tidak Cukup Melindungi Anak

Psikolog anak dan pakar parenting Veronica Adesla menyebut sistem rating sebagai langkah awal yang penting, tetapi bukan jaminan keamanan psikologis. Menurutnya, anak-anak punya tingkat kematangan kognitif dan emosional yang berbeda sesuai usia.

Anak kecil belum mampu memahami bahwa perilaku karakter di dalam game tidak berlaku di dunia nyata. Remaja sudah lebih paham, namun masih dalam proses menahan diri dan mempertimbangkan konsekuensi.

"Dengan demikian sistem rating dapat membantu orangtua dalam memilih permainan yang lebih sesuai dengan kesiapan perkembangan anak," kata Veronica kepada detikINET.

Veronica menekankan rating usia bukan berarti game tersebut pasti aman bagi setiap anak dalam kelompok usia itu. Dampak game juga dipengaruhi durasi bermain, intensitas keterlibatan, interaksi dengan pemain lain, karakteristik pribadi anak, kondisi psikologis, dan lingkungan keluarga.

Durasi Bermain Sama Pentingnya dengan Konten

Game tanpa kekerasan yang sesuai usia pun bisa bermasalah jika dimainkan berlebihan hingga mengganggu tidur, aktivitas fisik, hubungan sosial, atau tanggung jawab sekolah. Karena itu, pengawasan dan pendampingan orang tua dinilai sama pentingnya dengan klasifikasi konten.

"Game yang tidak mengandung kekerasan dan sesuai untuk usia anak sekalipun dapat menjadi bermasalah apabila dimainkan secara berlebihan," ujarnya.

Keberhasilan IGRS, menurut Veronica, bergantung pada konsistensi penerapan, edukasi, dan bimbingan terhadap anak. Kemampuan anak mengelola emosi dan mengendalikan dorongan juga perlu dilatih sejak dini.

"Sistem rating adalah pintu masuk perlindungan anak tapi bukanlah solusi tunggal," pungkasnya.

Adopsi Global lewat Kerja Sama IARC

Komdigi menggandeng International Age Rating Coalition (IARC) agar IGRS mudah diadopsi platform distribusi global seperti Google Play dan Nintendo eShop. Skema ini memungkinkan pengembang mengisi kuesioner sekali untuk mendapat rating di berbagai wilayah.

Bagi pelaku industri game Indonesia, kewajiban klasifikasi ini menambah beban administratif, terutama studio kecil. Namun sistem yang terhubung IARC berpotensi mempermudah distribusi game lokal ke pasar internasional.

Bagi orang tua, IGRS memberi acuan awal saat memilih game untuk anak. Acuan itu tetap perlu dilengkapi pemantauan durasi bermain dan komunikasi soal konten yang dikonsumsi anak setiap hari.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top