KALIMANTAN TIMUR — Memuji anak dengan kata "pintar" sudah jadi kebiasaan banyak ibu di rumah. Padahal studi di Journal of Educational Psychology menemukan anak usia 5-6 tahun yang dipuji pintar hampir dua kali lebih mungkin mencontek. Simak cara memuji yang lebih aman untuk membentuk kejujuran anak.
Peneliti di University of Wollongong Australia menguji 210 anak usia 5 hingga 6 tahun dari latar belakang kelas menengah perkotaan. Setiap anak diberi tes berhitung mudah supaya mereka merasakan keberhasilan, lalu mendapat umpan balik berbeda: dipuji pintar, dipuji karena kerja keras, disebut beruntung, diberi tahu soalnya mudah, atau tidak diberi penjelasan apa pun.
Setelah itu semua anak diminta mengerjakan tes singkat dengan kesempatan mencontek saat orang dewasa keluar ruangan. Anak yang dilabeli "pintar" hampir dua kali lebih mungkin curang dibanding kelompok lain.
Pujian kecerdasan memang menaikkan kepercayaan diri anak dalam jangka pendek. Efek sampingnya, anak merasa harus terus tampil baik untuk menjaga citra itu.
Ketika tugas terasa sulit, anak jadi takut gagal dan malu. Pilihannya menyempit: menghindari tugas atau nekat mencontek demi hasil yang terlihat bagus.
Temuan ini sejalan dengan data Developmental Science 2025 yang menunjukkan anak usia sekolah dasar sudah bisa menimbang untung-rugi kecurangan. Mereka juga mulai menilai kapan curang dianggap boleh dan kapan tidak.
Ganti "kamu pintar" dengan pujian yang menyorot usaha. Contohnya: "Kamu sudah bekerja sangat keras untuk itu, bagus sekali!" Usaha adalah hal yang bisa anak kendalikan, berbeda dengan bakat bawaan.
Ibu juga bisa mengajak anak bicara soal apa yang penting dan mengapa. Diskusi singkat seperti ini membantu anak memahami alasan di balik aturan, bukan sekadar menuruti perintah.
Studi yang sama mencatat anak kecil perlu didorong secara langsung untuk jujur. Pujian saat anak berbuat benar terbukti menekan perilaku curang, karena anak masih mencari tahu apakah curang benar-benar menguntungkan.
Anak usia 3-5 tahun memang sering curang karena kontrol impulsnya belum matang, dengan angka mencapai lebih dari 90 persen dalam penelitian. Jadi wajar bila si kecil sesekali mencoba-coba.
Yang bisa ibu lakukan: beri contoh kejujuran di rumah, akui kesalahan sendiri di depan anak, dan apresiasi saat anak mengaku meski hasilnya kurang sempurna. Konsistensi seperti ini lebih berdampak daripada satu kalimat pujian besar.
Kebiasaan curang sesekali masih tergolong normal di usia prasekolah. Namun bila anak sering berbohong, menyalahkan teman, atau curang disertai ledakan emosi hebat, ada baiknya ibu berkonsultasi dengan psikolog anak.
Perhatikan juga bila perilaku ini muncul bersamaan dengan penurunan minat belajar atau kecemasan berlebihan menjelang ujian. Evaluasi lebih awal membantu ibu menemukan akar masalahnya.
Memuji anak tetap penting, hanya saja caranya perlu disesuaikan. Fokuskan pujian pada proses dan kejujuran, bukan pada label pintar, supaya anak tumbuh percaya diri tanpa rasa takut gagal.