BALIKPAPAN — Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.30 Wita itu menyasar jemaat dan warga di sekitar gereja. Peserta menerima materi tentang langkah awal yang tepat saat menghadapi kondisi darurat medis, terutama henti jantung dan gangguan pernapasan. IDI menilai respons cepat orang-orang terdekat korban bisa menentukan peluang keselamatan sebelum tenaga medis tiba.
Dalam situasi darurat, pertolongan tidak selalu bisa menunggu kedatangan tenaga medis. Respons cepat dari orang di sekitar korban menjadi langkah penting untuk meningkatkan peluang keselamatan. Karena itu, warga didorong mengenali tanda-tanda kondisi darurat dan segera menghubungi layanan medis.
Pelatihan juga menekankan cara memberi pertolongan awal yang aman, baik bagi korban maupun penolong. Peserta diajak memahami tindakan yang berisiko memperburuk kondisi korban agar tidak dilakukan sembarangan.
Edukasi BHD di Gereja Bethany merupakan bagian rangkaian HUT ke-76 IDI dengan tema "IDI Berkemajuan, Berbakti untuk Bangsa". Program serupa direncanakan menyasar 12 sekolah menengah pertama (SMP) di Balikpapan serta melibatkan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
IDI Balikpapan juga memperluas edukasi ke tempat ibadah lintas agama, termasuk vihara dan gereja, untuk menjangkau lebih banyak warga. Pelaksanaannya melibatkan dokter spesialis anestesi yang berkompetensi di bidang kegawatdaruratan dan terapi intensif.
Ketua IDI Cabang Balikpapan, dr. Andi Sri Juliarty R., M.Kes, menempatkan edukasi kesehatan sebagai bagian dari pengabdian dokter kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, IDI ingin memperluas pengetahuan kesehatan hingga ke lingkungan tempat ibadah.
Gereja Bethany dipilih sebagai salah satu lokasi untuk mendekatkan edukasi kegawatdaruratan kepada warga. Pendekatan ini dinilai efektif karena jemaat dan warga sekitar bisa langsung mempraktikkan pengetahuan yang diterima.
Selain edukasi kesehatan, IDI Balikpapan menyalurkan bantuan sosial bagi warga yang membutuhkan, termasuk dukungan alat bantu mobilitas seperti kursi roda. Bantuan itu diharapkan memudahkan penerima menjalani aktivitas sehari-hari sesuai kebutuhan mereka.
Rangkaian kegiatan ini menegaskan bahwa pengabdian dokter tidak hanya dilakukan melalui pelayanan pengobatan. Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan keselamatan dinilai sama pentingnya, terutama agar warga lebih siap menghadapi situasi darurat di lingkungan keluarga maupun masyarakat.