Bayi Diberi Telur Mentah: Dokter Anak Ingatkan Risiko Salmonella

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:21:01 WIB
Dokter anak mengingatkan risiko bakteri Salmonella pada pemberian telur mentah kepada bayi.

KALIMANTAN TIMUR — Kasus bayi Alena yang diduga dicekokan telur mentah oleh neneknya viral di media sosial dan sempat dirawat intensif di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Spesialis anak konsultan neonatologi, Dr dr Johanes Edy Siswanto, SpA(K), mengingatkan telur mentah maupun setengah matang tidak dianjurkan untuk bayi karena berisiko mengandung bakteri Salmonella.

Bayi berusia belum genap satu bulan itu dilaporkan mengalami demam sebelum diduga diberi telur mentah oleh nenek dari pihak ayahnya. Kondisinya memburuk hingga memerlukan perawatan intensif sejak Jumat (9/10). Kabar meninggalnya Alena kemudian beredar luas di media sosial.

Terlepas dari penyebab pasti kematian yang belum bisa disimpulkan tanpa pemeriksaan medis, dr Johanes menegaskan kasus ini jadi pengingat penting. Pemberian telur mentah pada bayi, apalagi sebagai upaya menurunkan demam, bukanlah cara yang aman.

Mengapa Telur Mentah Berbahaya untuk Bayi

Telur mentah dan setengah matang berpotensi terkontaminasi bakteri Salmonella. Bakteri ini bisa masuk ke saluran cerna bayi dan memicu gangguan yang tidak ringan.

"Telur mentah maupun setengah matang tidak dianjurkan untuk bayi, karena berisiko mengandung bakteri Salmonella," ujar Johanes saat dihubungi detikcom, Senin (12/10/2026).

Infeksi Salmonella pada bayi dapat menimbulkan muntah, diare, demam, hingga dehidrasi berat. Pada kondisi terburuk, infeksi bisa berkembang menjadi sepsis atau infeksi aliran darah yang mengancam nyawa.

Bayi Baru Lahir Paling Rentan

Sistem kekebalan tubuh bayi baru lahir belum matang sempurna. Itulah sebabnya infeksi yang tampak ringan pada orang dewasa bisa berkembang cepat menjadi kondisi serius pada bayi.

Ketika infeksi Salmonella sudah menyebar, penanganan medis harus segera dilakukan. Menunda pengobatan hanya memperbesar risiko komplikasi yang lebih berat.

Telur Tetap Boleh, Asal Dimasak Matang

Di balik peringatan tersebut, dr Johanes tidak melarang pemberian telur pada bayi. Telur justru sumber protein yang baik dan bisa menjadi bagian dari MPASI.

"Telur sebenarnya merupakan sumber protein yang baik dan dapat diperkenalkan sejak usia sekitar 6 bulan sebagai MPASI, tetapi harus dimasak matang, baik putih maupun kuningnya," jelas dr Johanes.

Syarat utamanya satu: masak hingga benar-benar matang. Bagian putih dan kuning telur tidak boleh tersisa cair atau setengah matang.

Jangan Jadikan Telur Mentah sebagai Obat Demam

Praktik memberi telur mentah untuk menurunkan demam tidak memiliki dasar medis. Alih-alih membantu, kebiasaan ini justru membuka jalan masuknya bakteri berbahaya ke tubuh bayi.

Jika bayi demam, langkah yang tepat adalah memantau suhu tubuh, memastikan asupan cairan cukup, dan segera berkonsultasi ke dokter bila demam tidak turun atau disertai gejala lain seperti lemas, muntah, atau sulit menyusu.

Kapan Harus Segera ke Dokter

Orang tua dan pengasuh perlu waspada bila bayi menunjukkan tanda-tanda infeksi saluran cerna. Diare berulang, muntah terus-menerus, demam tinggi, atau tanda dehidrasi seperti mata cekung dan mulut kering tidak boleh ditangani sendiri di rumah.

Bayi baru lahir dengan kondisi seperti ini memerlukan pemeriksaan medis segera. Semakin cepat ditangani, semakin kecil risiko infeksi berkembang menjadi sepsis.

Kasus Alena menjadi pelajaran berharga bagi setiap keluarga yang merawat bayi. Telur memang bergizi, tetapi cara pengolahannya menentukan apakah ia jadi sumber protein atau sumber penyakit.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: health.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top