SAMARINDA — Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan pihaknya terus memantau sebaran asap di sejumlah wilayah karena kondisi dapat berubah sewaktu-waktu. Pihaknya juga melakukan sinkronisasi data lintas daerah agar informasi yang disampaikan seragam.
"Asap sudah menyebar di wilayah Kaltim. Kita terus melakukan sinkronisasi data terkait agar informasi yang disampaikan sama dan tidak menimbulkan simpang siur," kata Buyung.
Menurut Buyung, perubahan arah angin dan kondisi atmosfer memengaruhi pergerakan asap. Koordinasi dan pertukaran data antarwilayah dilakukan untuk memastikan perkembangan karhutla dapat dipantau bersama.
"Kondisi ini bisa berubah dengan cepat mengikuti arah angin dan kondisi atmosfer. Karena itu, sinkronisasi data antardaerah terus kita lakukan," jelasnya.
Ia menyebut kondisi di sejumlah kabupaten dan kota di Kaltim menunjukkan perkembangan yang berbeda dibandingkan hari sebelumnya.
Di Kutai Timur, hujan mulai turun di sejumlah desa. Kondisi tersebut turut memberikan perubahan terhadap cuaca di beberapa wilayah.
"Sudah ada hujan yang turun di beberapa desa. Ini menjadi perkembangan yang cukup baik dibandingkan kondisi sebelumnya," tuturnya.
Sejumlah wilayah di Kutai Timur mulai menunjukkan kondisi yang lebih cerah dan sejuk setelah hujan turun.
Berbeda dengan Kutai Timur, kondisi asap di wilayah Kutai Kartanegara masih cukup terasa. Dampaknya, kegiatan belajar mengajar di sejumlah wilayah diterapkan secara daring.
"Untuk Kutai Kartanegara, kondisi asap masih cukup terasa. Karena itu, aktivitas pembelajaran siswa dan siswi di sejumlah wilayah dilakukan secara daring," tambahnya.
Sementara itu, kondisi cuaca di Kabupaten Paser dan Penajam Paser Utara juga dilaporkan mengalami perubahan dibandingkan hari sebelumnya.
BPBD Kaltim bersama pemerintah kabupaten dan kota terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik panas, kondisi asap, serta cuaca di masing-masing wilayah. Pemantauan dilakukan menyusul terdeteksinya 134 hotspot yang tersebar di sejumlah daerah.
Sinkronisasi data antardaerah menjadi langkah utama agar informasi soal karhutla tidak simpang siur di tengah masyarakat.