SAMARINDA — Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Suwarso, menyatakan petani seharusnya mulai menggarap dan menanam sejak awal September. Keterbatasan air membuat jadwal tanam itu tertunda.
Dari total lahan terdampak, sekitar 207 hektare telah mendapat pasokan air melalui pemanfaatan void bekas tambang. Sejumlah wilayah yang sudah dialiri meliputi Makroman, Serayu, Betapus, Bukuan, dan Bantuas.
DLH telah melakukan survei langsung terhadap kualitas air void sebelum menyalurkannya ke lahan pertanian. Hasilnya, air dinyatakan layak untuk mengairi sawah meski belum aman untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK).
"Dari DLH sudah survei langsung layak untuk kepentingan pertanian. Tapi belum layak untuk MCK. Jadi untuk pertanian masih aman," ujar Suwarso, Selasa (15/9/2026).
Pemanfaatan void dilakukan di sejumlah titik. Di Makroman terdapat dua lokasi yang telah disurvei, dan satu lokasi sudah dimanfaatkan Kelompok Tani Harapan Baru.
Void di kawasan Tanah Merah disiapkan untuk mendukung pengairan lahan pertanian di Serayu. Pemerintah masih berkoordinasi dengan kelompok tani untuk menentukan lokasi yang paling mendesak membutuhkan pasokan air.
"Kita sekarang masih ada di kantor ini dua unit mesin pompa air yang lumayan agak besar. Kita nanti tinggal menunggu koordinasi dengan Ketapang, kelompok tani mana yang membutuhkan segera kita distribusikan," tuturnya.
Kekeringan di Samarinda tidak hanya mengancam pasokan air bersih bagi masyarakat, tetapi juga menekan sektor pertanian. Ratusan hektare sawah yang seharusnya sudah memasuki masa tanam kini terbengkalai.
Pemanfaatan sumber air alternatif dari void tambang diharapkan membantu petani mempertahankan masa tanam sekaligus menekan risiko gagal tanam selama kekeringan berlangsung.
Pemerintah masih menunggu koordinasi dengan kelompok tani untuk mendistribusikan dua unit pompa air berukuran besar yang tersedia. Pompa itu akan diarahkan ke lahan yang paling membutuhkan pasokan air segera.