Perumda Varia Niaga Samarinda Diminta Cari Kontrak Baru, Wali Kota Sebut Laba Rp 2,37 Miliar Terlalu Bergantung ke Pelindo

Penulis: Dimas Prasetyo  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:02:31 WIB
Wali Kota Samarinda memerintahkan Perumda Varia Niaga mencari kontrak baru untuk mengurangi ketergantungan pada Pelindo.

SAMARINDA — Wali Kota Samarinda Andi Harun memerintahkan jajaran direksi Perumda Varia Niaga untuk memperluas pasar dan mengamankan minimal satu kontrak baru di wilayah perairan strategis lainnya. Langkah ini dinilai krusial untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus mengurangi ketergantungan perusahaan pada unit assist kapal.

Unit bisnis penyandang dana terbesar itu tercatat menyumbang laba Rp 2,37 miliar atau sekitar 76 persen dari total laba BUMD. Capaian tersebut dinilai positif, tetapi menyimpan kerentanan karena masih bertumpu pada satu kontrak utama dengan Pelindo.

"Kontribusi besar itu dinilai positif, tetapi sekaligus menyimpan risiko konsentrasi karena masih bergantung pada satu kontrak utama dengan Pelindo," kata Andi Harun dalam Rapat Evaluasi Kinerja Perumda Varia Niaga Semester I Tahun 2026.

Rapor Hijau dan Efisiensi Karyawan

Di tengah instruksi diversifikasi itu, manajemen Varia Niaga memaparkan sejumlah capaian yang menjadi rapor hijau perusahaan. Perumda ini menjadi satu-satunya BUMD di Samarinda yang berhasil menerapkan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) berbasis Odoo.

Efisiensi juga dilakukan terhadap jumlah karyawan menjadi 86 orang dengan produktivitas yang meningkat. Dari 21 unit bisnis yang diamanatkan dalam Peraturan Daerah (Perda), delapan unit di antaranya telah aktif berkontribusi.

Sektor retail melalui Bebaya Mart dan kemitraan Business to Business (B2B) terus berkembang lewat penambahan produk hingga 3.600 SKU, rebranding cabang Antasari, hingga ekspansi pasokan pangan ke sektor perhotelan dan peternakan mandiri di Berambai.

Okupansi Rusunawa dan Teras Samarinda Melonjak

Kinerja unit usaha lain menunjukkan tren positif. Kunjungan ke Teras Samarinda melonjak 144 persen menjadi sekitar 468 ribu orang, sementara okupansi Rusunawa mencapai 97 persen dengan tingkat pembayaran 97 persen. Kos Syariah berada di angka 92 persen.

Meski banyak capaian positif, jajaran Pemkot Samarinda tetap memberikan catatan kritis. Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Kota Samarinda Marnabas menilai pendapatan parkir Teras Samarinda belum optimal karena realisasinya baru Rp 865 juta dari potensi Rp 936 juta.

Catatan Kritis: Fisik Bangunan dan Proyeksi Keuangan

Wakil Wali Kota Saefuddin Zuhri turut meminta perbaikan fisik Teras Samarinda, seperti atap rusak dan kualitas rumput, segera ditangani. Ia juga mendorong peran aktif Varia Niaga dalam mengendalikan inflasi daerah, khususnya pada komoditas ayam ras.

Kepala Bagian Kerja Sama Pemerintah Kota Samarinda Idfi Septiani menyoroti adanya celah (gap) antara laba usaha dan laba total yang masih dipengaruhi pendapatan lain-lain. Ia meminta proyeksi keuangan disusun lebih terukur agar ketergantungan pada pendapatan di luar bisnis utama tidak mengganggu stabilitas jangka panjang perusahaan.

Adapun evaluasi total juga diminta menyasar unit pangan, mulai dari Harga Pokok Penjualan (HPP), margin, biaya distribusi, hingga alokasi operasional. Menurut Andi Harun, masalah di unit pangan murni merupakan isu efisiensi dan manajemen internal.

Reporter: Dimas Prasetyo
Sumber: kaltim.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top