SAMARINDA — Perekonomian Kalimantan Timur pada Triwulan II-2026 menunjukkan ekspansi positif di tengah dinamika sektor riil. Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), ekonomi Kaltim tumbuh 3,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan total PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp246,66 triliun.
Kepala BPS Kaltim, Mas'ud Rifai, dalam rilis resminya, Rabu (5/8/2026), merinci bahwa secara kuartalan, ekonomi Kaltim tumbuh 2,62 persen (quarter-to-quarter/q-to-q) dibanding Triwulan I-2026. Adapun akumulasi pertumbuhan sepanjang Semester I-2026 tercatat 3,17 persen secara tahun kalender (c-to-c).
Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi tidak lagi didominasi sektor ekstraktif. Lapangan usaha administrasi pemerintahan mencatatkan ekspansi tertinggi sebesar 9,78 persen. Sektor ini diikuti oleh penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 13,79 persen, mengindikasikan aktivitas pemerintahan dan mobilitas masyarakat yang meningkat.
Struktur pertumbuhan ini menarik untuk dicermati. Jika biasanya pertumbuhan Kaltim bertumpu pada pertambangan dan energi, kali ini belanja pemerintah dan sektor jasa menjadi penopang utama. Hal ini sejalan dengan data pengeluaran yang menunjukkan komponen konsumsi pemerintah tumbuh hingga 20,14 persen.
Dari sisi pengeluaran, selain konsumsi pemerintah, komponen ekspor barang dan jasa juga tumbuh solid sebesar 6,72 persen. Angka ini menjadi sinyal positif bagi kinerja perdagangan luar negeri Kaltim yang selama ini didominasi komoditas batu bara dan turunannya.
Mas'ud juga memaparkan data ketimpangan pengeluaran penduduk. Gini Ratio Kaltim pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,312, naik tipis 0,002 poin dari posisi September 2025 yang sebesar 0,310. Meski naik, angka ini masih masuk kategori ketimpangan rendah menurut ukuran Bank Dunia.
"Berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, distribusi pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah pada Maret 2026 sebesar 22,03 persen. Hal ini mengindikasikan distribusi pengeluaran berada pada kategori ketimpangan rendah," ujar Mas'ud.
Menariknya, ketimpangan di perdesaan justru membaik. Gini Ratio di daerah perdesaan turun signifikan dari 0,325 pada September 2025 menjadi 0,310 pada Maret 2026. Sebaliknya, di perkotaan naik dari 0,300 menjadi 0,309.
Posisi Kaltim sebagai motor ekonomi regional kembali terkonfirmasi. Provinsi ini menyumbang 46,70 persen dari total pembentukan nilai tambah regional Pulau Kalimantan. Capaian ini menegaskan peran strategis Kaltim, khususnya melalui hilirisasi dan aktivitas di Ibu Kota Nusantara (IKN), dalam mendorong perekonomian kawasan timur Indonesia.
Ke depan, keberlanjutan pertumbuhan akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga momentum belanja pemerintah dan mendorong diversifikasi sektor produktif di luar komoditas utama.