KALIMANTAN TIMUR — Menjadi orang tua di era digital memang penuh tantangan, Moms. Salah satu kekhawatiran yang kini banyak dirasakan adalah soal kemampuan bicara si kecil. Dokter spesialis anak mengungkapkan, kasus keterlambatan bicara atau speech delay cenderung meningkat belakangan ini, dan orang tua punya peran kunci untuk mencegahnya sejak dini.
Dokter Spesialis Anak Mayapada Hospital Bandung, Stephanie Supriadi, menyebut peningkatan kasus ini salah satunya dipicu oleh tingginya paparan gawai pada balita, terutama di bawah usia dua tahun. Masalahnya, menonton layar tanpa adanya interaksi dua arah tidak merangsang kemampuan bahasa anak.
Berbeda dengan saat kita mengobrol atau membacakan cerita, aktivitas menatap layar cenderung pasif. Anak hanya menerima stimulasi satu arah, sehingga perkembangan bahasanya bisa terhambat.
Banyak orang tua yang bertanya, sebenarnya di usia berapa anak harus mulai bisa bicara? Dokter Stephanie menegaskan, evaluasi awal bisa dimulai sejak bayi berusia 9 bulan. Di usia ini, bayi seharusnya sudah menunjukkan kemampuan babbling atau mengoceh.
"Kalau anak belum bisa babbling dan juga belum bisa menoleh saat dipanggil, itu harus langsung dibawa ke rumah sakit," ujarnya. Jangan menunggu lebih lama, karena penanganan dini sangat menentukan hasil terapi ke depannya.
Memasuki usia 15 bulan, anak idealnya sudah mampu mengucapkan satu kata spesifik, seperti "mama" atau "mimi". Sementara di usia 2 tahun, si kecil mulai bisa menggabungkan dua kata dalam satu kalimat sederhana, misalnya "mau susu" atau "ayo main".
Perlu dipahami, keterlambatan bicara tidak selalu berdiri sendiri. Dokter Stephanie menggarisbawahi bahwa kondisi ini bisa disertai gejala klinis lain yang perlu diwaspadai, seperti perilaku hiperaktif berlebihan atau tindakan menyakiti diri sendiri.
Evaluasi lebih lanjut juga perlu dilakukan untuk memeriksa fungsi pendengaran anak. Sebab, gangguan pendengaran menjadi syarat mutlak yang memengaruhi kemampuan bicara. Selain itu, kondisi seperti autisme dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) juga bisa menjadi faktor yang mendasarinya.
Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua di rumah? Dokter Stephanie menekankan, penggunaan gawai sebaiknya dihindari total untuk anak di bawah usia 2 tahun. Setelah usia tersebut, screen time baru boleh diberikan dengan batasan yang jelas dan tetap didampingi.
"Peran orang tua untuk melakukan stimulasi dan interaksi di rumah adalah satu-satunya cara paling efektif mencegah keterlambatan perkembangan," tuturnya. Ajak si kecil mengobrol, bernyanyi, atau membaca buku bergambar setiap hari. Aktivitas fisik di luar ruangan juga penting untuk mendukung tumbuh kembang secara menyeluruh.
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Mayapada Hospital Bandung, Eddy Fadlayana, menjelaskan bahwa lima tahun pertama kehidupan merupakan periode emas atau golden period. Di masa inilah otak anak berkembang paling pesat dan menyerap segala stimulasi dengan sangat baik.
"Melalui pemantauan tumbuh kembang secara berkala, berbagai risiko keterlambatan perkembangan dapat dikenali lebih awal sehingga anak dapat memperoleh intervensi yang sesuai," jelasnya. Dengan deteksi dini, potensi tumbuh kembang anak bisa didukung secara optimal.
Jika Moms melihat si kecil belum mencapai tonggak perkembangan bicara sesuai usianya, jangan ragu untuk segera berkonsultasi. Penanganan keterlambatan bicara biasanya melibatkan evaluasi komprehensif, mulai dari pemeriksaan fisik, tes fungsi pendengaran, hingga terapi wicara terpadu. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang anak untuk mengejar ketertinggalannya.
Ingatlah, setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Namun, kewaspadaan dan stimulasi yang tepat dari orang tua adalah benteng terkuat untuk memastikan si kecil tumbuh optimal, Moms.