Mercedes-Benz Akui Kelewat Jauh Buang Tombol Fisik, CEO: Kami Sempat Lupa pada Pelanggan

Penulis: Endra Sanjaya  •  Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:58:01 WIB
Chairman Mercedes-Benz Group, Ola Källenius, menyampaikan pengakuan atas kebijakan pengurangan tombol fisik di kabin kendaraan dalam wawancara dengan Autocar.

KALIMANTAN TIMUR — Pengakuan ini disampaikan langsung oleh Chairman Mercedes-Benz Group, Ola Källenius, dalam wawancara terbarunya dengan Autocar. Ia menilai industri otomotif secara keseluruhan terlalu ambisius dalam mengadopsi kontrol digital, termasuk perintah suara, tanpa mempertimbangkan aspek praktis saat berkendara.

"Terkadang Anda terbawa suasana dan melakukan teknologi demi teknologi itu sendiri, dan mungkin sedikit melupakan pelanggan," ujar Källenius. "Mulai sekarang, Anda akan melihat kami memperkenalkan kembali tombol-tombol yang paling masuk akal."

Fase "Low Button" dan Awal Kembalinya Tombol Setir

Pernyataan ini menjadi sinyal koreksi arah yang signifikan dari Mercedes-Benz. Sebelumnya, pabrikan berlogo bintang tiga ini dikenal paling agresif dalam memangkas tombol fisik, terutama pada model-model generasi terbaru seperti jajaran EQ dan CLA terbaru yang mengandalkan layar besar MBUX.

Källenius bahkan melontarkan istilah menarik saat ditanya apakah industri otomotif sudah mencapai titik puncak penggunaan layar. "Saya tidak tahu apakah kita sudah berada di peak screen, tapi yang jelas kita sedang berada di fase low button," kelakarnya. Ia menambahkan bahwa Mercedes-Benz sebenarnya sudah mulai mengembalikan tombol fisik pada setir kemudi, namun efeknya terhadap seluruh lini model tentu membutuhkan waktu karena siklus pengembangan mobil yang panjang.

Kritik Terhadap Infotainment Model Terbaru

Kekecewaan terhadap tren ini bukan hanya datang dari konsumen. Sejumlah jurnalis otomotif internasional, termasuk dari The Drive, baru-baru ini menguji Mercedes-Benz CLA elektrik dan mengeluhkan sistem infotainment yang rumit serta minimnya kontrol fisik yang intuitif. Meski performa sedan kecil tersebut diakui impresif, interaksi pengemudi dengan kabin justru dianggap kurang bersahabat.

BMW, rival utama Mercedes-Benz, juga disebut berada dalam posisi yang sama dalam hal "kebingungan" desain antarmuka digital ini. Namun, pengakuan blak-blakan dari seorang CEO papan atas seperti Källenius dinilai langka dan patut dihargai, karena jarang ada eksekutif yang secara terbuka mengakui kesalahan desain produknya sendiri.

Dampak untuk Pasar Global dan Indonesia

Keputusan ini berpotensi mengubah wajah kabin mobil-mobil Mercedes-Benz di masa depan, termasuk model-model yang dipasarkan di Indonesia. Meski belum ada konfirmasi model mana yang pertama kali menerapkan filosofi baru ini, para pemilik dan calon pembeli bisa berharap pada generasi berikutnya yang lebih mengedepankan ergonomi tanpa sepenuhnya meninggalkan kesan mewah dan futuristik.

Pergeseran strategi ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi canggih penting, kenyamanan dan keamanan pengemudi tetap menjadi prioritas utama dalam desain sebuah kendaraan.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: thedrive.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top