KALIMANTAN TIMUR — Menjadi ibu sekaligus pekerja dengan mobilitas tinggi memang tidak mudah. Acha Septriasa, aktris yang juga seorang ibu, baru-baru ini membagikan perasaannya tentang seringnya terpisah jarak dan waktu dengan anak semata wayangnya. Ia mengaku kehilangan momen-momen kecil seperti memeluk Bridgia setiap hari.
Acha tidak menampik bahwa ada rasa sedih yang mendalam setiap kali harus meninggalkan sang buah hati. Perasaan ini wajar dan manusiawi, terutama bagi ibu yang harus bekerja di luar kota atau bahkan di luar negeri. Mengakui emosi negatif ini justru merupakan langkah pertama yang sehat untuk tetap waras menjalani peran ganda.
Alih-alih berpura-pura baik-baik saja, Acha memilih untuk jujur pada dirinya sendiri. "Saya harus sabar menjalani pilihan hidup ini," ungkapnya. Sikap ini bisa menjadi pelajaran bagi ibu lain bahwa tidak apa-apa merasa berat hati saat harus berpisah dengan anak.
Daripada larut dalam kesedihan, momen bersama anak yang terbatas bisa diubah menjadi kualitas waktu yang lebih bermakna. Saat bertemu, fokuskan perhatian penuh pada anak tanpa distraksi gawai atau pekerjaan. Pelukan hangat dan sesi bercerita sebelum tidur bisa menjadi rutinitas yang memperkuat ikatan emosional.
Untuk mengisi hari-hari terpisah, manfaatkan teknologi. Video call dengan jadwal tetap, misalnya setiap pagi atau sebelum tidur, membantu anak merasa aman dan tetap terhubung. Ceritakan kegiatan sederhana harianmu, dan dengarkan celotehnya dengan antusias.
Ketika ibu harus pergi, penting untuk memastikan anak tetap dalam pengasuhan orang-orang tepercaya. Sosok pengganti ini berperan besar dalam menjaga rutinitas harian anak tetap stabil. Komunikasi rutin dengan pengasuh juga diperlukan agar ibu tetap update tentang perkembangan anak.
Dengan dukungan lingkungan yang positif, anak akan merasa tetap dicintai dan diperhatikan. Hal ini membantu mengurangi rasa cemas pada anak dan membuat ibu lebih tenang saat bekerja. Ingatlah, kebahagiaan ibu juga memengaruhi tumbuh kembang si kecil.
Menjalani long-distance parenting menuntut ketahanan mental yang kuat. Acha mencontohkan pentingnya memiliki tujuan jelas—bahwa kerja keras hari ini adalah untuk masa depan anak. Memiliki komunitas sesama ibu yang mengalami situasi serupa juga bisa menjadi ruang berbagi dan saling menguatkan.
Pada akhirnya, setiap ibu punya cara dan porsinya masing-masing dalam mendidik anak. Selama komunikasi tetap terjaga dan cinta selalu disalurkan, jarak fisik tidak akan mengurangi kedekatan batin antara ibu dan anak. Bridgia pasti merasakan usaha dan kasih sayang sang mama dari mana pun berada.