KALIMANTAN TIMUR — Prakirawan BMKG Ina Indah menjelaskan bibit siklon tersebut terdeteksi dengan kecepatan angin maksimum 15 knot dan tekanan udara minimum 1.008 mb, bergerak ke arah barat. Fenomena ini membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang memicu pertumbuhan awan hujan di sekitar pusat siklon maupun di sepanjang wilayah yang dilaluinya.
Berdasarkan prakiraan BMKG, hujan ringan berpotensi terjadi di Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Bandar Lampung, Serang, Bandung, Tanjung Selor, Mamuju, Palu, Manokwari, Nabire, Wamena, dan Merauke. Sementara itu, sejumlah kota besar lain diprakirakan cerah berawan hingga berawan tebal.
Kondisi cerah berawan hingga berawan tebal diperkirakan menyelimuti Jambi, Palembang, Pangkal Pinang, Jakarta, Semarang, Pontianak, Palangka Raya, Samarinda, Banjarmasin, Denpasar, Kupang, Makassar, Kendari, Gorontalo, Manado, Ternate, Ambon, dan Jayapura. BMKG juga mengingatkan potensi udara kabur di Bengkulu, Yogyakarta, dan Surabaya, serta kondisi asap atau kabut di Padang, Mataram, dan Sorong.
Di sisi lain, BMKG memproyeksikan fenomena El Nino akan bertahan hingga awal kuartal I 2027 dengan peluang mencapai intensitas kategori kuat. Kondisi ini diperkirakan bersamaan dengan munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember 2026.
"Informasi iklim ini sejalan dengan prediksi BMKG, di mana fenomena El Nino diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 dan memicu kondisi kemarau yang lebih kering dari normal," ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
Menghadapi potensi tersebut, pemerintah mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah strategis. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan yang dipicu oleh musim kemarau yang lebih kering dari normal.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terbaru melalui kanal resmi BMKG agar dapat mengantisipasi potensi hujan maupun perubahan cuaca yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari.