SAMARINDA — Sebanyak 55 tahun jejak kreatif pelukis kawakan Kalimantan Timur, Cadio Tarompo, akan dipamerkan dalam sebuah pameran tunggal yang difasilitasi penuh oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Kaltim. Pameran retrospektif bertajuk "Jejak Waktu: 55 Tahun Perjalanan dalam Karya" dijadwalkan berlangsung di Kompleks Kantor BPK Kaltim, Jalan Rifadin, Samarinda, pada 27 Juli 2026.
Kepala BPK Kaltim Lestari menjelaskan, pameran ini merupakan bagian dari program prioritas Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 yang diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan. Program ini menjadi bukti komitmen pemerintah dalam mendukung pelaku budaya di daerah melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT).
"Kementerian Kebudayaan memberikan banyak fasilitasi terhadap pelaku budaya, dan ini memang program prioritas kami. Tidak hanya di pusat, tetapi UPT-UPT di daerah juga bergerak aktif. Pameran Pak Cadio Tarompo ini difasilitasi penuh oleh BPK Kaltim," ujar Lestari di Samarinda, Selasa.
Pameran ini tidak sekadar ajang pamer visual. Menurut Lestari, momentum ini penting untuk menghimpun data sejarah perjalanan peradaban bangsa melalui karya rupa. Selama 55 tahun berkarya, Cadio Tarompo merekam proses kreatif panjang yang menuangkan berbagai display budaya ke dalam lukisannya.
"Karya rupa ini adalah momen bagi kita untuk mengumpulkan data perjalanan peradaban. Apalagi 55 tahun perjalanan kekaryaan Pak Cadio Tarompo merekam proses kreatif yang panjang, mulai dari awal beliau melahirkan karya lukis hingga saat ini. Pasti banyak display budaya yang terekam dan dituangkan di dalamnya," tambah Lestari.
BPK Kaltim berharap arsip visual dan artistik yang terkumpul selama lebih dari setengah abad ini mampu menjadi data berharga bagi penelusuran sejarah kebudayaan. Selain itu, pameran ini diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda dan pemantik awal untuk memperluas akses fasilitasi bagi perupa lokal lainnya di masa depan.
Cadio Tarompo, nama asli Ariyadi, adalah perupa senior kelahiran Sengkang, 27 Juli 1971, yang kini berbasis di Balikpapan. Pelukis otodidak ini dikenal mahir dalam gaya lukisan 3 dimensi, realis, hingga hyper-realistic. Ciri khas ikoniknya adalah teknik lukisan warna klise atau negatif. Teknik ini membuat lukisan Cadio terlihat jauh lebih hidup, detail, dan realistis secara menakjubkan saat dilihat menggunakan filter kamera negatif pada ponsel pintar.
Memulai karier profesional sejak 1990, karya-karyanya telah melanglang buana ke pameran internasional di Asia dan Eropa, seperti China, Singapura, Malaysia, Hong Kong, Vietnam, hingga Jerman. Sepanjang kariernya, ia telah meraih berbagai prestasi bergengsi, di antaranya Juara 1 Lomba Melukis Model se-Kaltim (1995), Nominator Jakarta Art Award (2008), Nominator Indonesia Art Award (2010), Nominator UOB Indonesia (2011), dan Karya Favorit Mandiri Art Award (2015).
Selama lebih dari 30 tahun berkarya, Cadio telah melahirkan ratusan lukisan dengan berbagai media mulai dari kanvas, dinding, kain, hingga kayu ulin. Beberapa karya menonjolnya meliputi lukisan realis "Potensi" (2014), "Selamat Tinggal Corona" yang bertema optimisme pandemi, serta deretan lukisan dokumentasi budaya yang merekam potret manusia, keindahan alam, hingga detail motif adat Kalimantan dan Nusantara. Pameran tunggalnya pada Juli 2026 mendatang akan menjadi kesempatan langka bagi publik untuk menyaksikan langsung perjalanan panjang sang maestro.