KALIMANTAN TIMUR — Pasar PC global tengah mengalami dinamika yang tak biasa. Laporan terbaru International Data Corporation (IDC) menunjukkan adanya penurunan jumlah unit PC yang dikirim ke pasar pada kuartal pertama 2025. Namun di saat bersamaan, pendapatan yang dihasilkan dari penjualan PC justru meningkat.
Fenomena ini dibahas oleh Jitesh Ubrani, manajer riset IDC, dalam podcast Apple @ Work. Menurut Ubrani, kondisi ini mencerminkan perubahan strategi para produsen PC yang mulai meninggalkan perang harga dan beralih ke produk dengan margin lebih tinggi.
Data IDC mencatat pengiriman PC global menurun secara year-on-year (YoY) pada Q1 2025. Meski demikian, pendapatan industri justru tumbuh. Ini berarti konsumen dan korporasi mulai memilih PC dengan spesifikasi lebih tinggi — baik dari segi prosesor, RAM, maupun fitur AI — yang harganya jauh di atas rata-rata.
“Kami melihat pergeseran ke perangkat premium. Konsumen tidak lagi sekadar mencari yang termurah, tetapi yang paling sesuai dengan kebutuhan produktivitas mereka,” jelas Ubrani dalam wawancara tersebut.
Pendorong utama kenaikan pendapatan adalah segmen PC premium, termasuk laptop dengan chip Apple Silicon dan perangkat Windows Copilot+. Kategori ini menawarkan harga jual rata-rata (ASP) yang lebih tinggi, sehingga meskipun jumlah unit yang terjual lebih sedikit, total pendapatan tetap naik.
Apple sendiri, menurut laporan IDC, mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang solid berkat dominasi MacBook Air dan MacBook Pro di segmen high-end. Sementara itu, vendor Windows seperti Dell, Lenovo, dan HP juga mulai menggenjot penjualan laptop dengan prosesor Snapdragon X Elite dan Intel Core Ultra yang mendukung fitur AI on-device.
Bagi konsumen Indonesia, tren ini berarti pilihan PC di pasaran akan semakin terbelah. Di satu sisi, laptop entry-level mungkin akan lebih jarang mendapat upgrade spesifikasi besar. Di sisi lain, varian premium dengan layar OLED, RAM 16 GB ke atas, dan NPU untuk AI akan semakin marak — dengan banderol harga mulai Rp 15 juta hingga Rp 30 juta.
Pengguna yang terbiasa dengan segmen menengah (Rp 8-12 juta) perlu lebih selektif. Meski budget terbatas, beberapa vendor masih menyediakan opsi dengan prosesor generasi terbaru namun dengan kompromi di sektor layar atau material bodi.
Laporan IDC ini jadi pengingat bahwa tren “murah meriah” di pasar PC perlahan memudar. Produsen kini mengejar profitabilitas, bukan sekadar volume. Bagi pembeli, ini berarti investasi di PC harus lebih dipikirkan matang — bukan cuma soal harga, tapi juga umur pakai dan fitur yang benar-benar dibutuhkan dalam 3-5 tahun ke depan.
Podcast Apple @ Work sendiri disponsori oleh Mosyle, platform manajemen perangkat Apple untuk korporasi. Episode lengkap dengan analisis lebih detail dari Jitesh Ubrani bisa disimak di kanal resmi Apple @ Work.