KALIMANTAN TIMUR — KEDIRI — Ancaman kemarau panjang yang diprediksi melanda pada pertengahan 2026 membuat Pemerintah Kabupaten Kediri bergerak cepat. Bupati Hanindhito Himawan Pramana, yang akrab disapa Mas Dhito, memerintahkan jajarannya untuk berkoordinasi langsung dengan Pertamina dan PLN demi mengamankan dua kebutuhan pokok petani: air dan solar.
Salah satu keluhan klasik petani saat musim kemarau adalah sulitnya mengakses BBM bersubsidi untuk menghidupkan pompa air. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri, Sukadi, mengatakan bahwa prosedur pengurusan rekomendasi solar kini dipangkas drastis.
"Dulu petani harus datang ke Dispertabun untuk mengurus barcode. Sekarang cukup lapor ke Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). PPL yang akan menguruskan rekomendasi ke kami," ujar Sukadi dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).
Setelah dokumen dinyatakan lengkap, termasuk surat keterangan dari pemerintah desa, rekomendasi dari Dispertabun akan dikeluarkan pada hari yang sama. "Rekom dari kami, hari itu juga kami kirim ke PPL untuk dicetak. Jadi sehari, petani sudah bisa mendapatkan barcode," jelasnya.
Meski prosesnya dipermudah, pengawasan tetap diperketat untuk mencegah penyalahgunaan BBM subsidi. Solar bersubsidi ini khusus digunakan untuk diesel pompa air dan operasional alat mesin pertanian (alsintan).
Untuk mengatasi kekeringan di lahan pertanian, Pemkab Kediri berencana membangun 380 titik sumur submersible pada tahun 2026. Program ini didanai dari anggaran pemerintah pusat maupun daerah, dan akan menyasar kelompok-kelompok tani di seluruh Kabupaten Kediri.
Masalahnya, sumur submersible membutuhkan pasokan listrik yang besar. Di sinilah peran PLN masuk. "Kami dengan PLN Kediri maupun Mojokerto selalu berkomunikasi, berkoordinasi terkait kebutuhan petani masalah listrik untuk diprioritaskan," kata Sukadi.
Dengan kata lain, jaringan listrik akan dipasang atau diperkuat di area-area sawah yang menjadi lokasi pembangunan sumur. Ini memungkinkan petani mengairi lahan mereka tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pompa diesel yang boros BBM.
Tak hanya soal air dan solar, Pemkab Kediri juga berupaya menekan biaya produksi petani melalui bantuan benih. Tahun ini, sebanyak 200 ton benih jagung telah disalurkan untuk 13.300 hektare lahan.
Saat penyaluran secara simbolis pada akhir Juni 2026 lalu, Bupati Hanindhito memastikan bahwa bantuan tidak berhenti di situ. "Kita tidak berhenti di sini, karena setelah benih kita masih memiliki bantuan nanti Alsintan, jumlahnya nanti ditunggu saja," ujarnya.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak hanya bereaksi terhadap ancaman kekeringan, tetapi juga membangun sistem yang lebih tangguh: dari penyederhanaan akses BBM, elektrifikasi sawah, hingga distribusi benih. Pertanian tetap menjadi prioritas utama Mas Dhito, bukan hanya untuk menjaga ketahanan pangan, tetapi juga kesejahteraan 13.300 hektare lahan jagung yang menjadi tumpuan ribuan petani Kediri.