KALIMANTAN TIMUR — Program yang digelar di kawasan hutan lindung Kota Ho Chi Minh itu melibatkan personel dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan setempat, Kepolisian, serta relawan masyarakat. Latihan berlangsung selama dua hari, sejak Senin (15/4), dengan skenario kebakaran yang meluas akibat angin kencang dan medan sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Dalam simulasi, api dengan cepat menjalar ke area seluas lima hektar. Petugas harus memadamkan sumber api sekaligus mengevakuasi warga yang terjebak di dua titik berbeda. Komandan lapangan dari Kepolisian Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan memimpin langsung operasi, mengatur pembagian sektor dan aliran suplai air dari sungai terdekat.
"Ini bukan sekadar latihan rutin. Kami menyimulasikan kondisi paling buruk agar setiap anggota paham perannya saat keadaan darurat nyata," ujar Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Ho Chi Minh, Tran Van Cuong, dalam keterangan pers usai simulasi.
Program ini menyasar tiga aspek kritis. Pertama, mempercepat waktu respons dari laporan masuk hingga unit pertama tiba di lokasi, yang ditargetkan di bawah 10 menit. Kedua, akurasi pembacaan kondisi lapangan, termasuk arah angin dan sumber air alternatif. Ketiga, prosedur evakuasi warga lanjut usia dan anak-anak yang kerap menjadi korban dalam kebakaran hutan di pemukiman padat.
Pasukan dilatih menggunakan peta digital dan drone pemantau panas untuk mendeteksi titik api yang tidak terlihat dari darat. Data dari drone langsung dikirim ke posko komando untuk menentukan prioritas pemadaman.
Kota Ho Chi Minh memiliki sejumlah kantong permukiman yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Dalam lima tahun terakhir, setidaknya tiga kebakaran besar terjadi di zona transisi tersebut, merusak puluhan rumah dan lahan pertanian. Pemerintah kota menilai risiko kebakaran akan meningkat seiring masuknya musim kemarau pada Juni mendatang.
Latihan ini juga menjadi ajang uji coba peralatan baru, termasuk pompa air portabel berkapasitas tinggi dan alat pelindung diri tahan panas yang baru diadakan tahun ini. "Kami ingin memastikan tidak ada celah antara prosedur di atas kertas dan eksekusi di lapangan," tambah Tran Van Cuong.